Bacaan: Matius 18: 12-20
Para saudari/saudara yang terkasih dalam Kristus. Hari ini, Yesus menyuguhkan dua buah perumpamaan untuk kita, yakni perumpamaan domba yang hilang dan perumpamaan dirham yang hilang. Dua perumpamaan ini hadir sebagai jawaban atas ungkapan bernada sindiran dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat kepada Yesus. “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka”. Di sini, rupa-rupanya orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sudah terjebak dalam arogansi rohani yang memandang diri sebagai orang paling suci, pemilik kebenaran, dan paling religius. Arogansi rohani menggiring mereka pada paradigma tradisional konservatif radikal, yakni “orang suci-orang berdosa; orang benar-orang salah; orang baik-orang buruk”. Paradigma “orang suci-orang berdosa, orang benar-orang salah; orang baik-orang buruk” membuat mereka berani memvonis sesama sebagai orang suci atau orang berdosa, orang benar atau orang salah, orang baik-orang buruk. Mereka membuat garis demarkasi yang tegas berdasarkan aspek kesucian. Kesucian menentukan eksistensi sosial seorang individu di tengah kehidupan bersama. Hal serupa dialami oleh orang-orang Yahudi yang dianggap berdosa kala itu, seperti pemungut cukai (Zakheus), para gembala domba, para janda, orang kusta, perempuan yang berzinah, dan lain-lain. Orang-orang seperti ini harus dihindari, dilenyapkan, karena keberadaan mereka dapat mengganggu kemapanan, stabilitas, kenyamanan, dan kesucian Taurat dan hidup bersama.
Namun, Yesus membalikan paradigma konservatif radikal itu dengan mendekatkan diri pada orang-orang berdosa. Yesus merangkul orang-orang yang dianggap berdosa dan dipandang rendah oleh kebanyakan orang, sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 18: 10), “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Luk. 5: 27-32). Tindakan Yesus ini dilatar belakangi oleh rasa solidaritas dan sikap kepedulian yang tinggi akan martabat kemanusiaan, khususnya orang-orang kecil. Yesus mengangkat martabat orang berdosa agar mereka bisa bangkit dari keterpurukan dan mendekatkan diri dengan Allah. Maka, tidak mengherankan jika ada banyak mukjizat dilakukan Yesus, seperti penyembuhan, kebangkitan Lazarus dan pemuda Nain, dan sebagainya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Allah tidak pernah membenci manusia sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sebab, sejak awal penciptaan, Allah melihat manusia ciptaan-Nya baik adanya. Dosa yang membuat manusia jauh dari Allah, diri sendiri, dan sesama. Dengan kata lain, Allah sangat membenci dosa, tetapi bukan pendosanya. Dosa yang harus dilenyapkan, bukan manusia atau pendosanya. Hal serupa berlaku dalam kehidupan kita setiap hari. Kita diajak untuk mendekatkan diri dengan orang berdosa, orang miskin, orang yang kehilangan harapan dengan cara ada bersama dan berbuah. Berbuah mengandung makna bahwa kehadiran kita bisa memberi arti bagi kehidupan seseorang. Mengubah seseorang tidak cukup hanya dengan sekadar ada, tetapi sejauh mana ada kita bisa membuahkan hasil yang bisa mengarahkan seseorang pada pengenalan akan Tuhan. MARI ADA, DAN BERBUAH!








0 komentar:
Posting Komentar