RENUNGAN KATOLIK
Bacaan Injil: Luk. 17:1-6.
Beberapa Nasihat 1Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. 2Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. 3Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. 4Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." 5Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" 6Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." | |
Renungan Singkat: Saudara dan saudari yang terkasih dalam Kristus. Dalam bacaan injil hari ini, Yesus menasihati kita, agar berhati-hati terhadap penyesatan. Penyesatan adalah fakta yang “tidak mungkin tidak ada,” (ayat 1) dia selalu ada. Lalu, apa itu penyesatan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, saya disuguhkan oleh begitu banyak pengertian tentang “sesat”. Akan tetapi, saya hanya memilih satu pengertian yang bagi saya, bisa merepresentasikan pemahaman kata “sesat” berdasarkan perikop injil hari ini. Sesat adalah menyimpang dari kebenaran, dan penyesatan adalah tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Oleh karena bersinggungan dengan kebenaran, maka, Yesus menganggap penyesatan sebagai kejahatan yang tidak boleh dianggap remeh atau sepele, perlu ada tindakan (hukuman) yang tegas dan serius: “Adalah lebih baik baginya, jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu, ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.” Betapa seriusnya masalah penyesatan ini, hingga Yesus memberikan pernyataan demikian. Pertanyaan untuk kita: Apakah kita sudah menganggap penyesatan itu sebagai masalah yang serius? Mungkin, kita sering menyaksikan ketidakadilan, hoax, ujaran kebencian di berbagai media sosial, kampanye hitam untuk meningkatkan reputasi diri, perundungan, penganiayaan, manipulasi fakta, dan sebagainya. Namun, apakah kita pernah berpikir sejenak bahwa semuanya itu adalah representasi dari penyesatan itu sendiri? Saat ini, ada banyak orang yang menjadi korban dan pelaku dari penyesatan. Mungkin saja, kita yang sedang membaca dan menulis renungan ini, di sini dan di situ. Kita tinggal merefleksikan diri. Apakah saya masuk dalam kategori korban penyesatan atau justru menjadi pelaku penyesatan itu sendiri? Akan tetapi, Tuhan hanya minta ini kepada kita, yakni jagalah diri kita agar tidak terjebak dalam penyesatan. Semoga. AMIN. | |








0 komentar:
Posting Komentar