Selasa, 19 Maret 2024

MARI BELAJAR DARI FILM FIREPROOF

 

Fireproof adalah sebuah film inspiratif yang menceritakan persoalan-persoalan seputar bahtera kehidupan keluarga Kristiani modern. Film yang berasal dari Amerika Serikat ini dirilis pada tahun 2008 oleh Samuel Goldwyn Films dan Affirm Films, disutradarai oleh Alex Kendrick, yang merupakan penulis dan produser bersama dengan saudaranya, Stephen Kendrick. Film ini dibintangi oleh Kirk Cameron. Erin Bethea, Ken Bevel, Perry Revell, Harris Malcom, Phyllis Malcom, dan lain-lain.

Meskipun review film ini secara umum kurang bagus dari kalangan kritikus film, film ini ternyata sangat sukses dan menjadi surprise hit di Box Office, meraih peringkat 4, dan menjadi film independen, dengan pendapatan kotor tertinggi berjumlah lebih dari $33 juta pada tahun 2008. Film ini memperoleh penghargaan dari organisasi-organisasi Kristen Evangelikal, serta meraih "Best Feature Film Award” pada San Antonio Independent Christian Film Festival 2009 (Wikipedia).

Ada dua tokoh sentral dalam film ini, yakni sepasang suami istri Kristiani, Caleb Holt dan Catherine Holt. Caleb Holt adalah kapten Albany Fire Department's Station One, seorang pemadam kebakaran di daerah Albania, Georgia. Sementara itu, Catherine Holt (istrinya) adalah direktur public relations pada Phoebe Putney Memorial Hospital.

Dalam film ini, Caleb dan Catherine mengalami banyak persoalan dalam kehidupan keluarga. Persoalan-persoalan tersebut hampir membawa keduanya pada perceraian sebagai pasangan keluarga Kristiani. Persoalan-persoalan yang dialami oleh Caleb dan Catherine disebabkan oleh miskomunikasi dan pornografi yang berujung pada hadirnya orang ketiga. Miskomunikasi terjadi karena keduanya membangun sebuah kecurigaan, tidak saling percaya, tidak setia, dan tidak terbuka antara satu sama lain. Miskomunikasi berujung pada sikap saling menyalahkan dan menceritakan keburukan pasangannya kepada rekan kerja mereka.

Keegoisan kedua pasangan ini rupanya mendominasi perjalanan rumah tangga mereka. Keegoisan telah memupuk sikap tidak mau mendengarkan satu sama lain, hingga akhirnya berdampak pada ketidakfokusan untuk membangun bahtera kehidupan keluarga. Fakta ini tentu berseberangan dengan komitmen perkawinan Gereja Katolik, yakni kebahagiaan pasangan Kristiani akan tercipta dengan selalu berjalan pada satu tujuan yang sama.

Kehadiran orang ketiga, yaitu dr. Gavin Keller juga semakin memperkeruh hubungan Caleb dan Catherine. Apalagi ditambah dengan kondisi ibu Catherine yang sedang sakit dan kecenderungan Caleb menonton film porno, membuat situasi semakin runyam. Kedekatan dan intensitas perjumpaan dr. Gavin dan Catherine menimbulkan benih cinta antara keduanya. Catherine jatuh cinta pada Keller yang dalam kenyataannya sudah berkeluarga, namun tidak mau menceritakannya pada Catherine. Catherine pun demikian, tidak mau menceritakan bahwa dirinya sudah hidup berkeluarga dengan Caleb.

Menarik bahwa di tengah pergolakan keluarga ini, muncul sebuah kesadaran dari Caleb untuk kembali menata kehidupan keluarganya yang sedang berada pada ujung tanduk. Caleb menceritakan seluruh persoalan keluarganya pada John Holt, ayahnya. Caleb menceritakan ihwal rencana perceraiannya dengan istrinya. Namun, ayahnya meneguhkan Caleb agar mempertimbangkan keputusan itu. Ayahnya memberikan sebuah buku yang berisi 40 hal yang berkaitan dengan persoalan seputar keluarga. Caleb menerapkan apa yang ditegaskan dalam buku itu, walaupun banyak kegagalannya yang membuat Caleb putus asa. Namun, ayahnya tetap memberikan kekuatan dan selalu mengingatkan Caleb, agar selalu berdoa kepada Tuhan. Sikap penyerahan kepada Tuhan akhirnya mengubah sikap Caleb dan memilih untuk lebih banyak bertingkah baik ketimbang banyak berbicara. Dia mengubah konsepnya tentang kehidupan rumah tangga. Alhasil, upaya Caleb berhasil berkat motivasi dari ayahnya sendiri.

Pesan untuk Kita

Ternyata komunikasi itu sangat penting dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis. Kegagalan dalam komunikasi antara Caleb dan Catherine menjadi akar dari banyak masalah yang mereka hadapi. Mereka tidak hanya gagal dalam mendengarkan satu sama lain, tetapi juga tidak mampu untuk terbuka dan jujur tentang perasaan dan kebutuhan mereka. Ini mengarah pada sikap saling curiga, ketidakpercayaan, egois, dan kesalahpahaman yang merusak hubungan mereka.

Film ini juga menggarisbawahi pentingnya komitmen dalam perkawinan. Meskipun menghadapi banyak godaan dan kesulitan, terutama dengan munculnya orang ketiga seperti dr. Gavin Keller, Caleb dan Catherine akhirnya menyadari pentingnya mempertahankan komitmen antara satu sama lain. Mereka belajar bahwa cinta sejati bukanlah hanya tentang perasaan, melainkan juga tentang keputusan untuk tetap bersama dan bekerja keras untuk memperbaiki hubungan mereka.

Terakhir, film ini mengajarkan pentingnya keyakinan dan penyerahan kepada Tuhan dalam menghadapi cobaan dan kesulitan dalam kehidupan rumah tangga atau kehidupan bersama. Melalui dukungan dari ayah Caleb dan melalui doa, Caleb menemukan kekuatan dan motivasi untuk bertahan dan memperbaiki hubungannya dengan Catherine.

0 komentar:

Posting Komentar

HERODES DAN PERIHAL BERSUMPAH

  BACAAN INJIL: MARKUS 6: 17--29 Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Saya sangat tertarik, untuk merefleksikan ayat-ayat dari I...