Fireproof adalah sebuah film inspiratif yang menceritakan
persoalan-persoalan seputar bahtera kehidupan keluarga Kristiani modern. Film
yang berasal dari Amerika Serikat ini dirilis pada tahun 2008 oleh Samuel Goldwyn Films dan Affirm Films, disutradarai oleh Alex Kendrick,
yang merupakan penulis dan produser bersama dengan saudaranya, Stephen Kendrick. Film ini dibintangi oleh Kirk Cameron. Erin Bethea, Ken Bevel, Perry Revell, Harris
Malcom, Phyllis Malcom, dan lain-lain.
Meskipun review film ini secara umum kurang bagus dari
kalangan kritikus film, film ini ternyata sangat sukses dan menjadi surprise hit di Box Office, meraih peringkat 4, dan menjadi film independen, dengan
pendapatan kotor tertinggi berjumlah lebih dari $33 juta pada tahun 2008. Film
ini memperoleh penghargaan dari organisasi-organisasi Kristen Evangelikal, serta meraih "Best Feature Film Award” pada San Antonio Independent Christian Film Festival 2009 (Wikipedia).
Ada dua tokoh sentral dalam film
ini, yakni sepasang suami istri Kristiani, Caleb Holt dan Catherine Holt. Caleb
Holt adalah kapten Albany Fire Department's Station One, seorang pemadam
kebakaran di daerah Albania, Georgia. Sementara itu, Catherine Holt (istrinya)
adalah direktur public relations pada Phoebe Putney Memorial Hospital.
Dalam film ini, Caleb dan Catherine
mengalami banyak persoalan dalam kehidupan keluarga. Persoalan-persoalan
tersebut hampir membawa keduanya pada perceraian sebagai pasangan keluarga
Kristiani. Persoalan-persoalan yang dialami oleh Caleb dan Catherine disebabkan
oleh miskomunikasi dan pornografi yang berujung pada hadirnya orang ketiga.
Miskomunikasi terjadi karena keduanya membangun sebuah kecurigaan, tidak saling
percaya, tidak setia, dan tidak terbuka antara satu sama lain. Miskomunikasi
berujung pada sikap saling menyalahkan dan menceritakan keburukan pasangannya
kepada rekan kerja mereka.
Keegoisan kedua pasangan ini rupanya
mendominasi perjalanan rumah tangga mereka. Keegoisan telah memupuk sikap tidak
mau mendengarkan satu sama lain, hingga akhirnya berdampak pada ketidakfokusan
untuk membangun bahtera kehidupan keluarga. Fakta ini tentu berseberangan
dengan komitmen perkawinan Gereja Katolik, yakni kebahagiaan pasangan Kristiani
akan tercipta dengan selalu berjalan pada satu tujuan yang sama.
Kehadiran orang ketiga, yaitu dr. Gavin Keller juga semakin
memperkeruh hubungan Caleb dan Catherine. Apalagi ditambah dengan kondisi ibu
Catherine yang sedang sakit dan kecenderungan Caleb menonton film porno,
membuat situasi semakin runyam. Kedekatan dan intensitas perjumpaan dr. Gavin
dan Catherine menimbulkan benih cinta antara keduanya. Catherine jatuh cinta
pada Keller yang dalam kenyataannya sudah berkeluarga, namun tidak mau
menceritakannya pada Catherine. Catherine pun demikian, tidak mau menceritakan
bahwa dirinya sudah hidup berkeluarga dengan Caleb.
Menarik bahwa di tengah pergolakan
keluarga ini, muncul sebuah kesadaran dari Caleb untuk kembali menata kehidupan
keluarganya yang sedang berada pada ujung tanduk. Caleb menceritakan seluruh
persoalan keluarganya pada John Holt, ayahnya. Caleb menceritakan ihwal rencana
perceraiannya dengan istrinya. Namun, ayahnya meneguhkan Caleb agar
mempertimbangkan keputusan itu. Ayahnya memberikan sebuah buku yang berisi 40
hal yang berkaitan dengan persoalan seputar keluarga. Caleb menerapkan apa yang
ditegaskan dalam buku itu, walaupun banyak kegagalannya yang membuat Caleb
putus asa. Namun, ayahnya tetap memberikan kekuatan dan selalu mengingatkan
Caleb, agar selalu berdoa kepada Tuhan. Sikap penyerahan kepada Tuhan akhirnya
mengubah sikap Caleb dan memilih untuk lebih banyak bertingkah baik ketimbang
banyak berbicara. Dia mengubah konsepnya tentang kehidupan rumah tangga.
Alhasil, upaya Caleb berhasil berkat motivasi dari ayahnya sendiri.
Pesan
untuk Kita
Ternyata komunikasi itu sangat penting dalam membangun
hubungan yang sehat dan harmonis. Kegagalan dalam komunikasi antara Caleb dan
Catherine menjadi akar dari banyak masalah yang mereka hadapi. Mereka tidak hanya
gagal dalam mendengarkan satu sama lain, tetapi juga tidak mampu untuk terbuka
dan jujur tentang perasaan dan kebutuhan mereka. Ini mengarah pada sikap saling
curiga, ketidakpercayaan, egois, dan kesalahpahaman yang merusak hubungan
mereka.
Film ini juga menggarisbawahi
pentingnya komitmen dalam perkawinan. Meskipun menghadapi banyak godaan dan
kesulitan, terutama dengan munculnya orang ketiga seperti dr. Gavin Keller,
Caleb dan Catherine akhirnya menyadari pentingnya mempertahankan komitmen
antara satu sama lain. Mereka belajar bahwa cinta sejati bukanlah hanya tentang
perasaan, melainkan juga tentang keputusan untuk tetap bersama dan bekerja
keras untuk memperbaiki hubungan mereka.
Terakhir, film ini mengajarkan pentingnya keyakinan dan penyerahan kepada Tuhan dalam menghadapi cobaan dan kesulitan dalam kehidupan rumah tangga atau kehidupan bersama. Melalui dukungan dari ayah Caleb dan melalui doa, Caleb menemukan kekuatan dan motivasi untuk bertahan dan memperbaiki hubungannya dengan Catherine.









0 komentar:
Posting Komentar