This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 17 Juli 2023

Mari Ada dan Berbuah

Bacaan: Matius 18: 12-20

            Para saudari/saudara yang terkasih dalam Kristus. Hari ini, Yesus menyuguhkan dua buah perumpamaan untuk kita, yakni perumpamaan domba yang hilang dan perumpamaan dirham yang hilang. Dua perumpamaan ini hadir sebagai jawaban atas ungkapan bernada sindiran dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat kepada Yesus. “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka”. Di sini, rupa-rupanya orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sudah terjebak dalam arogansi rohani yang memandang diri sebagai orang paling suci, pemilik kebenaran, dan paling religius. Arogansi rohani menggiring mereka pada paradigma tradisional konservatif radikal, yakni “orang suci-orang berdosa; orang benar-orang salah; orang baik-orang buruk”. Paradigma “orang suci-orang berdosa, orang benar-orang salah; orang baik-orang buruk” membuat mereka berani memvonis sesama sebagai orang suci atau orang berdosa, orang benar atau orang salah, orang baik-orang buruk. Mereka membuat garis demarkasi yang tegas berdasarkan aspek kesucian. Kesucian menentukan eksistensi sosial seorang individu di tengah kehidupan bersama. Hal serupa dialami oleh orang-orang Yahudi yang dianggap berdosa kala itu, seperti pemungut cukai (Zakheus), para gembala domba, para janda, orang kusta, perempuan yang berzinah, dan lain-lain. Orang-orang seperti ini harus dihindari, dilenyapkan, karena keberadaan mereka dapat mengganggu kemapanan, stabilitas, kenyamanan, dan kesucian Taurat dan hidup bersama. 

            Namun, Yesus membalikan paradigma konservatif radikal itu dengan mendekatkan diri pada orang-orang berdosa. Yesus merangkul orang-orang yang dianggap berdosa dan dipandang rendah oleh kebanyakan orang, sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 18: 10), “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Luk. 5: 27-32). Tindakan Yesus ini dilatar belakangi oleh rasa solidaritas dan sikap kepedulian yang tinggi akan martabat kemanusiaan, khususnya orang-orang kecil. Yesus mengangkat martabat orang berdosa agar mereka bisa bangkit dari keterpurukan dan mendekatkan diri dengan Allah. Maka, tidak mengherankan jika ada banyak mukjizat dilakukan Yesus, seperti penyembuhan, kebangkitan Lazarus dan pemuda Nain, dan sebagainya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Allah tidak pernah membenci manusia sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sebab, sejak awal penciptaan, Allah melihat manusia ciptaan-Nya baik adanya. Dosa yang membuat manusia jauh dari Allah, diri sendiri, dan sesama. Dengan kata lain, Allah sangat membenci dosa, tetapi bukan pendosanya. Dosa yang harus dilenyapkan, bukan manusia atau pendosanya.  Hal serupa berlaku dalam kehidupan kita setiap hari. Kita diajak untuk mendekatkan diri dengan orang berdosa, orang miskin, orang yang kehilangan harapan dengan cara ada bersama dan berbuah. Berbuah mengandung makna bahwa kehadiran kita bisa memberi arti bagi kehidupan seseorang. Mengubah seseorang tidak cukup hanya dengan sekadar ada, tetapi sejauh mana ada kita bisa membuahkan hasil yang bisa mengarahkan seseorang pada pengenalan akan Tuhan. MARI ADA, DAN BERBUAH!


Berhati-hatilah terhadap Penyesatan

RENUNGAN KATOLIK

Bacaan Injil:  Luk. 17:1-6.


Beberapa Nasihat

1Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. 2Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. 3Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. 4Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." 5Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" 6Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."


Renungan Singkat:

Saudara dan saudari yang terkasih dalam Kristus.

     Dalam bacaan injil hari ini, Yesus menasihati kita, agar berhati-hati terhadap penyesatan. Penyesatan adalah fakta yang “tidak mungkin tidak ada,” (ayat 1) dia selalu ada. Lalu, apa itu penyesatan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, saya disuguhkan oleh begitu banyak pengertian tentang “sesat”. Akan tetapi, saya hanya memilih satu pengertian yang bagi saya, bisa merepresentasikan pemahaman kata “sesat” berdasarkan perikop injil hari ini. Sesat adalah menyimpang dari kebenaran, dan penyesatan adalah tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Oleh karena bersinggungan dengan kebenaran, maka, Yesus menganggap penyesatan sebagai kejahatan yang tidak boleh dianggap remeh atau sepele, perlu ada tindakan (hukuman) yang tegas dan serius: “Adalah lebih baik baginya, jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu, ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.” Betapa seriusnya masalah penyesatan ini, hingga Yesus memberikan pernyataan demikian. 

        Pertanyaan untuk kita: Apakah kita sudah menganggap penyesatan itu sebagai masalah yang serius? Mungkin, kita sering menyaksikan ketidakadilan, hoax, ujaran kebencian di berbagai media sosial, kampanye hitam untuk meningkatkan reputasi diri, perundungan, penganiayaan, manipulasi fakta, dan sebagainya. Namun, apakah kita pernah berpikir sejenak bahwa semuanya itu adalah representasi dari penyesatan itu sendiri? Saat ini, ada banyak orang yang menjadi korban dan pelaku dari penyesatan. Mungkin saja, kita yang sedang membaca dan menulis renungan ini, di sini dan di situ. Kita tinggal merefleksikan diri. Apakah saya masuk dalam kategori korban penyesatan atau justru menjadi pelaku penyesatan itu sendiri? Akan tetapi, Tuhan hanya minta ini kepada kita, yakni jagalah diri kita agar tidak terjebak dalam penyesatan. 

Semoga. AMIN.




Paskah Bersama di SMP Regina Caeli

Tema: "Bangkitlah Bersama Kristus untuk Menyelamatkan Bumi dan Mewujudkan Indonesia yang Toleran"

Saudara/i yang terkasih dalam Kristus. 

      Hari ini, kita merayakan Paskah secara bersama-sama. Meskipun perayaan Paskah sesuai kalender liturgi Gereja Katolik sudah berlalu, Roh Paskah itu masih terpatri kuat di dalam diri kita yang sungguh mengimani Kristus dan kebangkitan-Nya. 

     Paskah itu sendiri bukan perayaan kematian Kristus, melainkan perayaan kebangkitan Kristus. Bukan kematian yang kita rayakan, melainkan kebangkitan. Kristus bangkit dari kematian, dengan demikian kehidupan menang atas kematian/maut. Yesus adalah kehidupan dan empunya kehidupan itu sendiri. 

   Jadi, Paskah menjadi momen penegasan bagi kita bahwa derita, kematian, penyakit, dan segala bentuk kecemasan, bukanlah akhir dari semuanya. Paskah meneguhkan kita bahwa ada kebangkitan, ada keselamatan, ada kemenangan, ada penyelamatan. Tidak akan pernah terjadi bahwa manusia dan dunia akan terus berada di bawah kungkungan derita dan kematian. Akan muncul pada waktunya keadilan, kebebasan, sukacita, dan kehidupan. Tuhan akan menganugerahi keselamatan dan kehidupan baru bagi kita dan dunia ini.

      Tema Paskah bersama hari ini mengajak kita agar menjadi manusia Paskah yang peduli terhadap bumi, rumah kita bersama, tempat kita berpijak. Manusia Paskah adalah manusia yang berusaha membawa pembaharuan atau perubahan bagi yang lain, khususnya bagi bumi ini. Bumi kita saat ini sedang sakit parah karena ulah kita manusia. Di sana-sini, kita menyaksikan penebangan pohon, pembakaran hutan, sampah yang berserakan, pembuangan limbah pabrik ke sungai, tanah longsor, banjir, dan masih banyak lagi. Itu semua adalah ulah manusia, ulah kita yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli, acuh tak acuh, dan tidak mau menjaga rumah kita sendiri. 

        Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si menegaskan bahwa bumi adalah rumah bagi seluruh ciptaan Tuhan, termasuk manusia. Sebagai penghuni satu rumah, kita memiliki tanggung jawab untuk merawat dan menjaga rumah kita sendiri. Layaknya, kita yang memiliki rumah, jika rumah kita kotor, kita harus membersihkannya agar kelihatan cerah, indah, dan layak untuk dihuni. Jika ada lantai yang rusak, kita harus segera memperbaikinya atau menambalnya. Bumi pun harus dirawat dan dijaga agar tetap layak dihuni oleh seluruh ciptaan Tuhan, termasuk kita semua.  Jika kita membuang sampah pada tempatnya, maka, kita sudah menjadi manusia Paskah, manusia yang peduli, manusia pembawa perubahan.

        Disamping itu, tema Paskah bersama kita menyinggung juga tentang sikap toleran dalam kehidupan bersama di Indonesia. Indonesia adalah negara yang berdiri di atas dasar pluralitas atau keanekaragaman agama, budaya, dan sebagainya. Fakta pluralitas menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Kita tidak perlu jauh-jauh, sekolah kita adalah gambaran nyata adanya keanekaragaman tersebut. Sekolah ini menampung keanekaragaman budaya, agama, dan lain-lain. Kita yang hadir di sini berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Fakta keberagaman tersebut membuat kita harus bersikap toleran. Toleran itu sendiri adalah sikap menghargai, membiarkan, membolehkan pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. 

         Di sini, kita dilatih untuk hidup rukun di tengah banyaknya ketidaksamaan. Akan tetapi, ketidaksamaan bukan sesuatu yang harus ditiadakan, melainkan sesuatu yang harus diusahakan agar ketidaksamaan bisa menciptakan keserasian. Kita diajak untuk mengolah ketidaksamaan di antara kita agar menjadi sebuah nilai bersama yang menuntun kita kepada kebahagiaan bersama. 

        Akhirnya, semoga melalui acara hari ini, kita senantiasa hidup dalam iman Paskah. Iman yang membuat kita tetap merasa senasib dan sepenanggungan dengan sesama kita yang menderita, hidup dengan hati baru yang penuh kasih tanpa pamrih, selalu berpengharapan di tengah beragam alasan yang memupus harapan kita, mampu mencintai siapa saja dengan cinta sejati. Selamat pesta Paskah. Alleluia!!


HERODES DAN PERIHAL BERSUMPAH

  BACAAN INJIL: MARKUS 6: 17--29 Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Saya sangat tertarik, untuk merefleksikan ayat-ayat dari I...