This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 28 Agustus 2024

HERODES DAN PERIHAL BERSUMPAH

 

BACAAN INJIL: MARKUS 6: 17--29

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus.

Saya sangat tertarik, untuk merefleksikan ayat-ayat dari Injil Markus 6:22--26, karena kisah ini membawa kita pada kenyataan hidup yang sering kita hadapi, yaitu perihal sumpah atau janji yang kita buat. Kisah ini memperlihatkan bagaimana sebuah sumpah yang lahir dari dorongan kesenangan manusiawi dapat berujung pada keputusan yang tragis dan tidak bermoral.

Saya merenungkan bagaimana Raja Herodes, yang terpesona oleh tarian anak perempuan Herodias, memberikan sumpah yang begitu besar, hingga ia rela memberikan "setengah dari kerajaannya." Ini menunjukkan bahwa dalam momen euforia atau kesenangan sesaat, kita cenderung membuat janji-janji besar tanpa mempertimbangkan konsekuensi moral atau dampaknya. Bukan tidak mungkin, Herodes memberikan sumpahnya, bukan karena ada nilai moral di baliknya, melainkan karena ia ingin menyenangkan hati si penari dan menjaga kehormatannya di depan tamu-tamunya.

Saat saya memikirkan hal ini, saya sadar bahwa sering kali saya juga terjebak dalam situasi serupa. Ketika berada dalam situasi di mana saya ingin terlihat baik di hadapan orang lain, atau ketika emosi dan kesenangan menguasai diri, saya bisa tergoda untuk membuat sumpah atau janji yang pada akhirnya sulit untuk saya tepati atau bahkan menuntun saya pada tindakan yang salah. 

Ketika Herodes akhirnya memberikan kepala Yohanes Pembaptis, meskipun dengan hati yang berat, ia melakukannya karena sumpahnya yang sembrono. Ini menjadi peringatan bagi saya bahwa sumpah yang tidak didasari oleh pertimbangan moral yang matang, bisa berujung pada tindakan yang merusak, baik bagi diri saya sendiri maupun orang lain.

Dalam kehidupan nyata, sumpah atau janji adalah hal yang sakral dan harus dibuat dengan penuh kesadaran akan nilai-nilai moral. Saya belajar dari kisah ini bahwa setiap kata yang saya ucapkan, terutama dalam bentuk sumpah atau janji, haruslah dipertimbangkan dengan matang. Bukan hanya berdasarkan emosi atau keinginan sesaat, melainkan dengan kesadaran penuh akan dampak jangka panjangnya. Kesalahan Herodes tidak hanya pada sumpah yang ia buat, tetapi juga pada ketidakmampuannya, untuk mengakui kesalahan tersebut dan menarik kembali kata-katanya, demi kebaikan.

Akhirnya, refleksi ini mengingatkan saya bahwa dalam setiap sumpah atau janji, saya harus selalu mempertimbangkan, apakah itu didasari oleh moral yang kuat dan kebaikan bersama, atau hanya untuk memuaskan ego dan kesenangan sesaat. Dengan demikian, saya dapat menjaga integritas diri dan tidak terjebak dalam keputusan yang akan saya sesali di kemudian hari.


Kamis, 25 Juli 2024

RABUNI: GURU KEHIDUPAN, MENGHALAU KEGELAPAN


Bacaan Injil: Yoh. 20:1,11--18

20:1 Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.

Yoh 20:11 Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,

Yoh 20:12 dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.

Yoh 20:13 Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."

Yoh 20:14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Yoh 20:15 Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."

Yoh 20:16 Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.

Yoh 20:17 Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."

Yoh 20:18 Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

RENUNGAN SINGKAT:

Injil Yohanes hari ini mengisahkan kebangkitan Yesus dan penampakan-Nya kepada Maria Magdalena. Maria, yang begitu berduka atas kematian Yesus, menemukan kubur kosong dan menjadi murid yang pertama kali melihat Yesus yang bangkit. Perjumpaan ini bukan hanya bukti kebangkitan, melainkan transformasi iman Maria, dari kesedihan mendalam menjadi sukacita dan keyakinan penuh.

Di sini, kebangkitan Yesus mengajarkan kita bahwa di balik setiap duka dan kehilangan, ada harapan dan kebangkitan. Seperti halnya Maria Magdalena, kita dipanggil untuk mengenal kehadiran Tuhan, dalam momen-momen yang paling gelap dan menyampaikan kabar sukacita itu kepada dunia. AMIN.

Minggu, 16 Juni 2024

Perihal Menahan Diri

Bacaan Injil    : Mat. 5:27–32.

27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.   28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan  engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. 31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. 32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan istrinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.

KESAN SINGKAT:

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus.

Pada hari ini, Yesus memberikan sebuah pemahaman baru mengenai perzinahan. Sebuah pemahaman yang melampaui adat kebiasaan dan hukum keagamaan Yahudi, yang cenderung memandang perzinahan, hanya dalam konteks keterlibatan hubungan intim antara pria atau wanita dengan pria atau wanita, yang bukan istri atau suaminya. Yesus menekankan, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Bagi Yesus, perzinahan itu bukan hanya perihal perbuatan fisik-jasmaniah, melainkan lebih daripada itu adalah persoalan hati dan/atau pikiran, yang memiliki hasrat dan hawa nafsu yang kuat, untuk memandang dan menginginkan seseorang. Jadi, perzinahan adalah persoalan hasrat dan hawa nafsu dalam hati dan/atau pikiran, melampaui perbuatan fisik-jasmaniah.  

       Sebagai manusia, kita tentu pernah atau sedang memiliki hasrat dan hawa nafsu, yang membuat kita kerap jatuh ke dalam dosa. Namun, kita selalu diingatkan oleh Tuhan bahwa kemampuan untuk mengenali akar dosa, hingga mampu menahan diri terhadap godaan-godaan dosa adalah hal yang paling utama. Kemampuan untuk mengenali akar dosa dan menahan diri hanya akan terjadi, jika kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, melalui doa-doa kita. Amin.

Jumat, 17 Mei 2024

MATIKANLAH SESUATU YANG DUNIAWI DALAM DIRI

 

MATIKANLAH SESUATU YANG DUNIAWI DALAM DIRI

(Tinjauan Eksegetis atas Kol. 3: 5)

1.      Latar Belakang Penulisan Surat Paulus Kepada Jemaat di Kolose (William Barclay, 1981: 75-80).

            Kolose adalah satu dari tiga kota yang berdiri berdekatan di lembah sungai Lycius, kira-kira seratus mil dari Efesus. Kolose sangat terkenal sebagai kota provinsi yang besarnya kira-kira sama dengan kota Roma. Di sanalah dahulu Cicero biasa menerima tamu ketika menjabat sebagai prokonsul di Kolose. Dahulu Kolose adalah kota dagang yang penting, tapi sekarang tak ada satu batu pun yang menunjukkan letak kota itu.

            Adapun bahwa Gereja Kolose bukanlah Gereja yang didirikan Paulus. Malah Paulus belum pernah mengunjungi tempat itu. Orang Kolose termasuk dalam kumpulan orang-orang yang belum pernah melihat wajah Paulus (Kol. 2:1). Anggota-anggotanya asal kafir (non-Yahudi) yang dulunya menjauhi Allah (Kol. 1:21), tetapi sekarang telah mengenal kasih karunia Allah. Ada anggapan bahwa pendiri Gereja Kolose adalah Epafras. Dialah yang melayani umat itu ketika Paulus menulis surat ini (Kol. 1:7; 4:12). Epafraslah yang membawa berita-berita dari Kolose untuk Paulus (Kol. 1:7-8). Ada banyak berita yang menyenangkan yang dibawa oleh Epafras kepada Paulus seperti iman mereka pada Kristus serta cinta mereka terhadap sesama, juga tentang tertib hidup serta keteguhan iman mereka (Kol. 1:4-8; 2:5). Namun di samping situasi yang menggembirakan itu terselip berbagai hal yang mencemaskan hati Paulus. 

            Ada tiga kecemasan sekaligus ancaman bagi keberadaan umat Kristen di Kolose waktu itu, yakni pertama, bahaya Astrologi yakni kepercayaan yang menganggap planet-planet dan bintang-bintang sebagai dewa yang harus disembah oleh segenap umat manusia. Dewa-dewa ini memiliki kuasa atas manusia bahkan nasib manusia ditentukannnya. Implikasi lanjutan dari situasi ini adalah meluasnya praktik ramalan. Para peramal memanfaatkan momen ini untuk memperoleh uang atau keuntungan dengan bayaran tidak sedikit. Kedua, bahaya Syncretisme yakni ajaran agama campuran dengan adagiumnya: Tuhan adalah satu nama yang dipergunakan oleh semua agama. Misalnya, dalam rumah pribadi kaisar Aleksander Severus ada patung Abraham, Orpheus, Apolo dan Kristus. Ketiga, bahaya Gnostisisme yakni aliran yang memandang materi dan Allah sebagai sama-sama dari kekal. Jika dibandingkan dengan Allah yang sempurna, materi yang kekal tersebut cacat dan tidak sempurna. Bagi mereka Allah yang sempurna tidak bisa mencipta karena tidak dapat menyentuh materi yang kotor dan bercacat itu. Karena itu Allah mengirim emanasi dan emanasi itu mengeluarkan emanasi yang lainnya yang baru dan berada semakin jauh dari Allah, semakin tidak dikenal oleh Allah. Emansi yang terakhir inilah yang menciptakan dunia. Bahaya ajaran Gnostis adalah orang dapat saja berpikir bahwa karena materi itu buruk atau jahat, maka tubuh juga adalah jahat. Karena tubuh jahat, maka saya dapat berbuat apa saja dengan tubuh saya. Saya akan memuaskan semua keinginan dan nafsuku.

2.                  Tujuan Penulisan Surat Kolose Bagi Komunitas Kristennya

Apabila melihat latar belakang di atas kita menjumpai bahaya-bahaya yang menimpa umat di Kolose zaman Paulus. Mereka sedang berada dalam situasi degradasi moral akibat kehadiran ajaran-ajaran sesat. Ajaran-ajaran sesat tersebut mendominasi kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam bidang religius, jemaat mengalami kemerosotan iman akan Yesus Kristus. Melihat situasi yang demikian Paulus menasihati mereka melalui tulisan-tulisannya ini yakni pertama, terhadap situasi yang menyenangkan sebagaimana diberitakan oleh Epafras, Paulus senantiasa mengucap syukur dan berdoa terutama tentang iman mereka dalam Kristus Yesus serta kasih mereka terhadap semua orang kudus (Kol. 1: 3-4). Kedua, terhadap bahaya-bahaya atau ajaran sesat (Astrologi, syncretisme dan gnostisisme) yang mengancam kehidupan jemaat Kristen di Kolose, Paulus memberikan peneguhan iman kepada mereka agar selalu berhati-hati dan  tidak mengabdikan diri mereka kepada berbagai ajaran sesat tersebut. Dalam Kol. 2: 8, dia menegaskan kepada mereka bahwa berhati-hatilah terhadap filsafat kosong dan palsu menurut roh-roh dunia. Di sini Paulus bermaksud agar umat tidak percaya akan ajaran Astrologi yang berkembang luas zamannya. Bagi Paulus satu-satunya senjata utama yang dipegang  teguh oleh umat Kristen adalah percaya kepada kekuatan Kristus, bukan kepada hal-hal duniawi yang mudah binasa (Kol. 2: 20). Terhadap ajaran Syncretisme dan Gnostisisme, Paulus menegaskan hal sama yakni meneguhkan iman umat agar tetap setia dan percaya dengan teguh kepada Kristus.  

3. Tinjauan Eksegetis atas Kol. 3: 5

            Bunyi surat Kol. 3: 5: “Karena itu matikanlah dalam diri-mu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,”

            Penulis sangat tertarik mengeksegese atau menafsir teks Kol. 3: 5 ini karena sangat erat kaitannya dengan praksis hidup manusia pada umumnya yakni makhluk yang mudah jatuh dalam godaan duniawi seperti mamon, zinah dan sebagainya. Tentu di sini tanpa mengabaikan ayat yang lainnya dari surat Kolose ini.

            Dalam Kol. 3:5 di atas, Paulus memberikan nasihat atau kecaman keras kepada umat Kristen di Kolose agar menghindari segala bentuk perbuatan duniawi yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam cara hidup yang tidak Kristiani (dosa). Dalam ayat 5 di atas, Paulus menggunakan frase “matikanlah dalam dirimu sesuatu yang duniawi”. Pertanyaannya adalah adakah Paulus di sini mengikuti ajaran sesat (ajaran Gnostik: melihat materi itu jahat, maka tubuh itu juga jahat) yang menghina atau menindas tubuh? Bahwa tubuh itu harus dihancurkan atau dimusnahkan karena kefanaan atau ketidaksempurnaannya itu?

            Dalam konteks Kol. 3:5 di atas, Paulus tentu tidak mengikuti ajaran sesat karena ia sendiri sungguh mengecam berbagai ajaran sesat itu (Kol. 2:20). Paulus di sini tidak bermaksud membunuh eksistensi tubuh fisik manusia, tapi apa yang lahir atau hadir dari segala kecenderungan yang duniawi itulah yang harus dimusnahkan. Kata “matikanlah” merujuk pada sikap Paulus yang menentang kejanggalan-kejanggalan kehidupan duniawi-jasmani yang penuh dengan noda dosa. Dengan kata lain, Paulus tidak memberitakan pembunuhan tubuh fisik manusia, tetapi hanya menyerang pekerjaan dunia yang sarat akan kecenderungan jahat atau dosa. Singkatnya bahwa Paulus tidak membenci pendosanya, tapi ia membenci dosa atau kuasa kegelapannya. Bagi Paulus martabat manusia terlalu luhur untuk dihancurkan karena pendosa itu sendiri adalah citra atau gambaran wajah Allah yang Maharahim.

            Dalam ayat 5 di atas juga, Paulus menyebut lima kecenderungan atau pekerjaan duniawi yang harus dimatikan atau dimusnahkan dalam kehidupan umat Kristen di Kolose. Pertama, pencabulan. Pencabulan telah membuat manusia lain menjadi objek atau sasaran kebengisan hawa nafsu, yang satu memakai yang lain. Rupanya praktik cabul ini sudah lumrah dipraktikan dalam agama-agama Yunani zaman Paulus waktu menulis surat ini. Dalam agama Yunani praktik cabul sudah mendapat legitimasi dan kesetiaan dalam nikah tidak diperhatikan lagi. (bdk. M. H. Bolkestein, 1996: 107). Kedua, najis. Banyak juga dipraktikan dalam kehidupan masyarakat Yunani ketika surat ini ditulis. Perbuatan najis dapat berupa homoseksualitas (Rom. 1:24). Ketiga, hawa nafsu. Nafsu selalu punya intensi untuk mengantar orang ke dalam hidup menurut keinginannya. Hawa nafsu di sini tidak hanya sebatas pada kelamin, tapi juga terdapat dalam tindakan yang berdasarkan keinginan daging. Keempat, nafsu jahat. Nafsu jenis ini bukan hanya sekedar pelampiasan keinginan tertentu tetapi keinginan tersebut disertai dengan kejahatan yang berdaya merusak. Kelima, ketamakan atau keserakahan. Tamak merupakan salah satu bentuk penyembahan berhala (Ef. 4:19, 5: 3, 5). Orang tamak selalu melihat sesuatu dari perspektif untungnya dari sebuah tindakan, meskipun perbuatan itu merugikan orang lain. Orang tamak adalah hamba uang, hamba kekayaan. Uang adalah dewanya. (bdk. M. H. Bolkestein, 1996: 108). Di sini hanya mau mengatakan bahwa ketika orang mendewakan uang atau mamon, maka yang terjadi adalah praktik ketidakadilan sosial, lenyapnya kepedulian sosial.

            Dari beberapa tinjauan eksegetis atas Kol. 3:5 di atas, penulis akhirnya menemukan aneka nilai kebajikan yang dapat dijadikan sarana pembantu dalam praksis hidup setiap hari. Nilai-nilai kebajikan itu adalah sikap untuk meninggalkan atau menjauhkan diri dari pelbagai kecenderungan duniawi seperti pencabulan, nafsu jahat, hawa nafsu, tamak dan kenajisan. Kelima kecenderungan di atas tentunya hanya sebagian dari aneka banyak kecenderungan duniawi lainnya. Di sini hanya mau mengatakan bahwa sebagai pengikut Kristus kita harus berani menyatakan perang dengan kecenderungan badaniah yang merusak relasi kita dengan Allah dan sesama manusia. Pemfokusan diri akan hal-hal yang berbau duniawi atau jasmaniah akan mengantar kita para spiritualitas hidup antihuman karena sikap bela rasa, tindakan kasih dan kepedulian sosial sudah dijejali oleh ego diri. Maka, kita diajak untuk memperkuat spiritualitas berbasis humanitas yang penuh dengan solidaritas kepada sesama manusia dengan kasih Kristus sendiri.

SUMBER:

Barclay, William. Penulis dan Warta Perjanjian Baru Penterj. Eduard Jebarus

            Ende: Nusa Indah, 1981.

Bolkestein, M. H. Tafsiran Kolose. Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1996.

Senin, 06 Mei 2024

KASIH TUHAN MELEBIHI KASIH KITA


Bacaan Injil: Yoh. 15:9--17.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.
12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu      minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Demikianlah Sabda Tuhan:

Renungan Singkat:

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Pada hari ini, Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi, seperti Dia telah mengasihi kita. Poin penting yang mau ditekankan di sini adalah sebelum kita mengasihi, Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Kita bisa saling mengasihi hanya karena Tuhan, bukan sebaliknya, Tuhan mengasihi, karena kita mengasihi. Kasih Tuhan tidak ditentukan kondisi dan/atau situasi hidup kita. 

Bagi kita sebagai pengikut Kristus, perintah untuk saling mengasihi menuntut sebuah kesetiaan. Memang belajar menjadi setia dan tetap setia tidaklah mudah. Namun, kita hanya perlu kesadaran diri sebagai penopang kesetiaan kita. Sebuah kesadaran yang lahir dari hati dan pikiran, yang berimbas pada cara bertutur dan bertindak kita. 

Kita hanya akan setia dan tetap setia, kalau kita menyadari tujuan panggilan hidup kita masing-masing. Sadar tujuan, penting untuk menghindari jalan yang salah. Kita juga hendaknya menyadari bahwa kesetiaan kita untuk bertahan sejauh ini, karena rahmat dan nikmat yang diberikan Tuhan. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak setia kepada Tuhan.

Akhirnya, setiap hari, Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kasih. Apakah kita mendengarkan panggilan Tuhan atau hanya sebatas mendengar saja?

Mari kita refleksikan dalam diri kita masing-masing. Tuhan memberkati hidup kita. AMIN.

Jumat, 19 April 2024

PERIHAL MENJADI LAMPU BERNYALA: PEMAKNAAN PASKAH BERSAMA PTK SEKOLAH REGINA CAELI

 

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Selamat merayakan Paskah untuk kita semua.
Saya hendak mengajukan sebuah pertanyaan reflektif untuk kita semua: apa makna perayaan Paskah bagi saya dan Anda sekalian? Tentu jawaban atas pertanyaan ini membutuhkan permenungan yang dalam, bukan sekadar jawab atau ala kadarnya saja. Sebagai umat Katolik, jawaban kita merepresentasikan siapa kita, dan sejauh mana kualitas iman kita kepada Tuhan. Secara pribadi, saya memaknai perayaan Paskah dalam beberapa poin berikut ini.

Pertama, merayakan Paskah berarti kita melakukan selebrasi atas keberhasilan menunaikan ibadah puasa, terutama pertobatan. Saatnya kita menuai rahmat keselamatan, berkat pertobatan yang bukan hanya sekali kita lakukan, melainkan secara terus-menerus. Jadi, kebangkitan kita benar-benar buah dari perjuangan kita yang tiada henti untuk menjadi manusia yang lebih baik, menjadi pendosa yang mau bertobat. 

Kedua, merayakan Paskah berarti jangan berhenti percaya dan berpengharapan kepada Tuhan. Kalau kita membaca Injil Yohanes pada hari ini, kita akan menemukan bahwa nasib/masa depan jiwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan akan dijamin kepastiannya oleh Tuhan sendiri. Yesus katakan, “Akulah Roti Hidup yang Turun dari Surga.” Roti di sini bukan dalam artian makanan jasmani, melainkan roti makanan jiwa rohani. Yesus adalah roti hidup yang menjamin kehidupan/keselamatan jiwa semua orang beriman. Maka, kedekatan kita dengan Tuhan akan menggaransi keselamatan/kebahagian jiwa kita. Kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan, agar kita beroleh jiwa yang hidup. 

Ketiga, Paskah berarti memberi lampu bernyala bagi yang membutuhkan. Saya akan mengantar kita dalam sebuah cerita inspiratif berikut ini.

Diceritakan bahwa seorang buta hendak menghadiri pesta pernikahan temannya pada suatu malam. Saudara si buta mendengar rencananya. Untuk itu, saudaranya itu memberikan sebuah lampu lentera yang masih bernyala kepada si buta. Si buta menolak, karena baginya mau gelap atau terang sama saja baginya. Lampu tidak berguna apa-apa untuknya. Kendati ia menolak, saudaranya terus menyakininya, sebab keberadaan lampu itu sangat berguna bagi siapa saja yang melewati jalan yang sama dengan si buta nantinya, sehingga tidak terjadi tabrakan karena gelap. Akhirnya, si buta terpaksa menerima lampu tersebut, kemudian melakukan perjalanan dalam malam yang gelap gulita.
Di tengah jalan, si buta ditabrak oleh seseorang hingga membuat si buta marah. Ia berkata, "Apakah kamu buta juga hingga menabrak saya yang sedang membawa lampu bernyala ini? Rupa-rupanya kamu sengaja menambrak saya.” Orang tadi balik bertanya, "Lampumu sudah padam, Saudara. Tidakkah engkau tahu itu? Sekarang, siapa yang salah, kamu atau saya?”

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Apa pesan penting yang boleh kita petik dari cerita ini.

Pertama, kita diminta untuk memberikan sesuatu yang berguna untuk orang lain. Kita diminta untuk memberikan lampu/terang untuk orang yang memang merasa gelap dalam banyak hal. Sejauh pemberian kita dirasa baik, pasti akan sangat berguna. Lampu untuk seorang buta memang tidak berguna, tetapi berguna untuk orang lain, agar menghindari tabrakkan dan bisa melihat si buta.

Kedua, kita hendaknya menyadari bahwa keberadaan kita di sini, entah sebagai apa saja, karena mau menjalankan tugas dan misi Tuhan Yesus, yaitu membawa terang, menjadi penjala manusia, menjadi sumber inspirasi, dan lain-lain. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk hidup santai, acuh tak acuh, masa bodoh, pura-pura, dan lain-lain. 

Akhirnya, semoga kita menjadi sebuah lampu yang selalu bernyala bagi orang lain, lewat cara dan teladan hidup kita. Mari tidak jemu-jemunya berbuat baik, kalau bukan sekarang kapan lagi. Nanti keburu hujan. AMIN.



Senin, 01 April 2024

DI BALIK PENYANGKALAN PETRUS

 

Bacaan Injil: Yoh 13: 21--33.36--38.
21 Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."
22 Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya.
23 Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya.
24 Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: "Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!"
25 Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, siapakah itu?"
26 Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.
27 Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera."
28 Tetapi tidak ada seorangpun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas.
29 Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin.
30 Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.
31 Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.
32 Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.
33 Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu.
36 Simon Petrus berkata kepada Yesus: "Tuhan, ke manakah Engkau pergi?" Jawab Yesus: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku."
37 Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!"
38 Jawab Yesus: "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."

KESAN SINGKAT:

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. 
    Saya sangat tertarik untuk merefleksikan ayat 38b yang berbunyi, "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." 
    Setidaknya tiga hal ini perlu kita refleksikan:
  Pertama, menyangkal atau disangkal dapat menjadi pengalaman yang menyakitkan, tetapi juga merupakan panggilan untuk memperkuat komitmen kita terhadap iman dan prinsip-prinsip kekatolikan kita. Dari penyangkalan Petrus, kita belajar betapa pentingnya menjaga kesetiaan kepada Tuhan, bahkan dalam situasi yang sulit atau tergoda untuk menarik diri.
    Kedua, pengalaman menyangkal atau disangkal dapat menjadi kesempatan untuk introspeksi diri dan mengevaluasi sejauh mana kita mengikuti jalan iman yang benar.
    Ketiga, kita dipanggil untuk menghayati kasih dan pengampunan Allah, serta memberikannya kepada orang lain. Dengan demikian, pengalaman menyangkal atau disangkal juga dapat menjadi peluang untuk memperdalam hubungan kita dengan Tuhan, melalui pengakuan dosa, pertobatan, dan menerima belas kasihan Tuhan.

Sabtu, 30 Maret 2024

KERAJAAN ALLAH DAN PERTOBATAN DALAM SEPULUH PERINTAH ALLAH

 

Bunyi Hukum Pertama: “Jangan menyembah berhala. Berbaktilah kepada-Ku saja dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu”

Berdasarkan isi hukum pertama dalam kesepuluh firman Allah di atas, kita bisa mengetahui, memahami sekaligus mendalami secara komprehensif posisi atau identitas kita sebagai orang Kristen. Isi hukum  pertama di atas mau mengafirmasi eksistensi kita sebagai umat pilihan Allah yang senantiasa dituntut secara terus menerus untuk percaya atau mengimani Allah yang adalah sumber kasih. Hemat penulis, ada tiga poin penting yang dapat kita petik dan dalami maknanya dari hukum pertama dalam kesepuluh firman Allah di atas terutama dalam hubungannya dengan eksistensi atau identitas kita sebagai umat Kristen, umat pilihan Allah yang penuh belas kasih.

Pertama, “Jangan menyembah berhala.” Perintah ini mengandung suatu larangan keras dari Allah kepada setiap umat-Nya agar tidak menyembah berhala atau kepada hal-hal duniawi yang pada galibnya bersifat sementara dan penuh dengan noda dosa. Orang Kristen dituntut untuk percaya hanya kepada satu Allah dalam tiga pribadi yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Trinitas) saja dan tidak diperbolehkan menyembah allah-allah lain, apalagi kepada patung-patung. Hal ini tentunya bermaksud agar api kesadaran umat Kristen senantiasa terpancar hanya kepada Allah yang adalah pencipta-Nya yang setiawan, yang menghembuskan nafas kehidupan dalam diri umat-Nya atas dasar kasih. Maka dengan demikian sebagai makhluk ciptaan, manusia (orang Kristen) sejatinya harus menghormati Allah sebagai Penciptanya yang Mahamulia dan Mahakudus dengan tidak menyembah sesuatu di luar diri Allah sendiri. Allah yang satu itulah yang harus dan patut disembah oleh setiap orang Kristen dalam derap langkah hidup setiap hari.

Kedua, “Berbaktilah kepada-Ku saja”. Dalam konteks ini, kita sebagai orang Kristen dituntut untuk memilih identitas sebagai hamba Allah yang senantiasa berbakti hanya melayani kehendak Allah sendiri. Sebagai ciptaan Allah yang paling istimewa kita dipanggil-Nya secara istimewa nan khusus untuk turut ambil bagian dalam karya pelayaan Allah sendiri. Karya pelayanan kita sejatinya harus berlandaskan kehendak Allah sendiri bukan kepada kehendak duniawi atau alla-allah lain yang adalah semu dan memiliki intensi tertentu yang pada hakekatnya menggoalkan kepentingan manusiawi semata.

Ketiga, “Cintailah Aku lebih dari segala sesuatu”. Di sini, identitas kita sebagai orang Kristen terpenuhi apabila kita memiliki semangat atau spiritualitas hidup kasih yang selalu mencintai Tuhan sebagaimana ditegaskan sebagai hukum yang pertama dan utama. Posisi kita dalam hubungan dengan Allah yang penuh kasih ini adalah yang dicintai terlebih dahulu oleh Allah, maka dengan demikian kita pun harus mencintai Allah. Allah mencintai kita tanpa memandang siapa kita atau tanpa memandang bulu. Ia mencintai kita secara total walaupun Allah sendiri mengetahui bahwa manusia pasti tidak akan setia kepada-Nya. Manusia adalah makhluk sementara yang begitu lemah akibat kemudahannya untuk jatuh ke dalam dosa atau pencobaan. Namun, Tuhan tidak memandang kekurangan manusia itu sebab Ia penuh dengan kasih setia. Maka dengan itu, kita selalu dituntut untuk mencintai hanya kepada Allah saja. Seperti halnya Allah mencintai kita secara total, maka totalitas spiritualitas kasih jualah sikap kita terhadap Allah. Adapun spiritualitas kasih kepada Allah dapat kita tunjukkan dalam keseharian hidup kita dengan tidak menyembah berhala dan tidak berbakti kepada hal-hal duniawi seperti mamon atau harta duniawi sebab kesemuanya itu adalah semu dan bersifat sementara belaka.

Lalu, bagaimana hubungan Kerajaan Allah dan pertobatan menurut perintah yang pertama?

Pada hakikatnya, eksistensi Allah adalah kasih dan cinta. Sebagai entitas kasih dan cinta, maka segala sesuatu yang diciptakan atau yang bernaung di bawah payung ke-Mahakuasa-an Allah adalah perwujudan kasih dan cinta juga. Manusia dan semua komponen alam semesta ini adalah perwujudan kasih dan cinta Allah. Semuanya diciptakan oleh Allah melalui sabda-Nya yang Kudus dan Mahakuasa atas dasar asas kebaikan yang dalamnya berlimpah kasih setia. Kerajaan Allah adalah suasana kehidupan ilahi yang fondasi utamanya adalah kasih dan rahmat pengampunan Allah. Lalu bagaimana hubungan Kerajaan Allah dan pertobatan dalam konteks perintah pertama sebagaimana termaktub di dalam kesepuluh firman Allah di atas?

Pertobatan pada hakikatnya selalu berhubungan dengan realitas keberdosaan manusia. Dosa merupakan suatu aktus ketidaksetiaan manusia terhadap kehendak Allah yang adalah kasih. Dosa terjadi tatkala manusia memilih jalan lain yang berseberangan dengan jalan Allah. Manusia tidak puas akan keadaan yang diterimanya dari Allah dan karena itu memilih beroposisi dengan kehendak Allah sendiri. Namun, sebagai makhluk yang sadar akan eksistensinya yang tercipta dari Allah dan meskipun manusia bertindak tidak setia dan beroposisi dengan kehendak Allah, manusia pada akhirnya mulai menyadari kesalahannya. Bahwa jalan yang benar hanya tertuju kepada Allah sendiri bukan kepada hal-hal lain sebagaimana diimpikannya itu. Ketika manusia mulai menyadari kesalahan akan keberdosaannya itu, ia mulai mencari pencerahan dan kasih dan di sini yang dicari manusia adalah Tuhan sendiri sebab Dialah sumber kasih itu sendiri. Maka pada titik ini, benih pertobatan mulai mengakar dalam diri manusia sendiri. Pertobatan di sini dapat diartikan sebagai suatu situasi berbaliknya manusia kepada Kerajaan Allah yang penuh kasih dan pengampunan. Dalam konteks Kitab Suci Perjanjian lama, tobat selalu berhubungan dengan berbaliknya orang Israel dari penyembahan berhala menjadi berbakti dan mencintai Allah lebih dari segalanya. Adapun melalui hukumnya yang pertama di atas, Allah sebenarnya menghendaki kita umat-Nya untuk selalu bertobat dan tidak menyimpang dari jalannya. Orang Kristen dituntut untuk kembali kepada Kerajaan-Nya yang berlimpah kasih setia dan kebenaran ilahi. Suatu Kerajaan yang penuh pengampunan dan tanpa noda dosa, sebab di dalamnya hidup orang-orang yang senantiasa sadar akan eksistensi atau identitasnya sebagai ciptaan Allah.

Selasa, 19 Maret 2024

MARI BELAJAR DARI FILM FIREPROOF

 

Fireproof adalah sebuah film inspiratif yang menceritakan persoalan-persoalan seputar bahtera kehidupan keluarga Kristiani modern. Film yang berasal dari Amerika Serikat ini dirilis pada tahun 2008 oleh Samuel Goldwyn Films dan Affirm Films, disutradarai oleh Alex Kendrick, yang merupakan penulis dan produser bersama dengan saudaranya, Stephen Kendrick. Film ini dibintangi oleh Kirk Cameron. Erin Bethea, Ken Bevel, Perry Revell, Harris Malcom, Phyllis Malcom, dan lain-lain.

Meskipun review film ini secara umum kurang bagus dari kalangan kritikus film, film ini ternyata sangat sukses dan menjadi surprise hit di Box Office, meraih peringkat 4, dan menjadi film independen, dengan pendapatan kotor tertinggi berjumlah lebih dari $33 juta pada tahun 2008. Film ini memperoleh penghargaan dari organisasi-organisasi Kristen Evangelikal, serta meraih "Best Feature Film Award” pada San Antonio Independent Christian Film Festival 2009 (Wikipedia).

Ada dua tokoh sentral dalam film ini, yakni sepasang suami istri Kristiani, Caleb Holt dan Catherine Holt. Caleb Holt adalah kapten Albany Fire Department's Station One, seorang pemadam kebakaran di daerah Albania, Georgia. Sementara itu, Catherine Holt (istrinya) adalah direktur public relations pada Phoebe Putney Memorial Hospital.

Dalam film ini, Caleb dan Catherine mengalami banyak persoalan dalam kehidupan keluarga. Persoalan-persoalan tersebut hampir membawa keduanya pada perceraian sebagai pasangan keluarga Kristiani. Persoalan-persoalan yang dialami oleh Caleb dan Catherine disebabkan oleh miskomunikasi dan pornografi yang berujung pada hadirnya orang ketiga. Miskomunikasi terjadi karena keduanya membangun sebuah kecurigaan, tidak saling percaya, tidak setia, dan tidak terbuka antara satu sama lain. Miskomunikasi berujung pada sikap saling menyalahkan dan menceritakan keburukan pasangannya kepada rekan kerja mereka.

Keegoisan kedua pasangan ini rupanya mendominasi perjalanan rumah tangga mereka. Keegoisan telah memupuk sikap tidak mau mendengarkan satu sama lain, hingga akhirnya berdampak pada ketidakfokusan untuk membangun bahtera kehidupan keluarga. Fakta ini tentu berseberangan dengan komitmen perkawinan Gereja Katolik, yakni kebahagiaan pasangan Kristiani akan tercipta dengan selalu berjalan pada satu tujuan yang sama.

Kehadiran orang ketiga, yaitu dr. Gavin Keller juga semakin memperkeruh hubungan Caleb dan Catherine. Apalagi ditambah dengan kondisi ibu Catherine yang sedang sakit dan kecenderungan Caleb menonton film porno, membuat situasi semakin runyam. Kedekatan dan intensitas perjumpaan dr. Gavin dan Catherine menimbulkan benih cinta antara keduanya. Catherine jatuh cinta pada Keller yang dalam kenyataannya sudah berkeluarga, namun tidak mau menceritakannya pada Catherine. Catherine pun demikian, tidak mau menceritakan bahwa dirinya sudah hidup berkeluarga dengan Caleb.

Menarik bahwa di tengah pergolakan keluarga ini, muncul sebuah kesadaran dari Caleb untuk kembali menata kehidupan keluarganya yang sedang berada pada ujung tanduk. Caleb menceritakan seluruh persoalan keluarganya pada John Holt, ayahnya. Caleb menceritakan ihwal rencana perceraiannya dengan istrinya. Namun, ayahnya meneguhkan Caleb agar mempertimbangkan keputusan itu. Ayahnya memberikan sebuah buku yang berisi 40 hal yang berkaitan dengan persoalan seputar keluarga. Caleb menerapkan apa yang ditegaskan dalam buku itu, walaupun banyak kegagalannya yang membuat Caleb putus asa. Namun, ayahnya tetap memberikan kekuatan dan selalu mengingatkan Caleb, agar selalu berdoa kepada Tuhan. Sikap penyerahan kepada Tuhan akhirnya mengubah sikap Caleb dan memilih untuk lebih banyak bertingkah baik ketimbang banyak berbicara. Dia mengubah konsepnya tentang kehidupan rumah tangga. Alhasil, upaya Caleb berhasil berkat motivasi dari ayahnya sendiri.

Pesan untuk Kita

Ternyata komunikasi itu sangat penting dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis. Kegagalan dalam komunikasi antara Caleb dan Catherine menjadi akar dari banyak masalah yang mereka hadapi. Mereka tidak hanya gagal dalam mendengarkan satu sama lain, tetapi juga tidak mampu untuk terbuka dan jujur tentang perasaan dan kebutuhan mereka. Ini mengarah pada sikap saling curiga, ketidakpercayaan, egois, dan kesalahpahaman yang merusak hubungan mereka.

Film ini juga menggarisbawahi pentingnya komitmen dalam perkawinan. Meskipun menghadapi banyak godaan dan kesulitan, terutama dengan munculnya orang ketiga seperti dr. Gavin Keller, Caleb dan Catherine akhirnya menyadari pentingnya mempertahankan komitmen antara satu sama lain. Mereka belajar bahwa cinta sejati bukanlah hanya tentang perasaan, melainkan juga tentang keputusan untuk tetap bersama dan bekerja keras untuk memperbaiki hubungan mereka.

Terakhir, film ini mengajarkan pentingnya keyakinan dan penyerahan kepada Tuhan dalam menghadapi cobaan dan kesulitan dalam kehidupan rumah tangga atau kehidupan bersama. Melalui dukungan dari ayah Caleb dan melalui doa, Caleb menemukan kekuatan dan motivasi untuk bertahan dan memperbaiki hubungannya dengan Catherine.

Senin, 12 Februari 2024

Di Balik Kemauan Si Kusta untuk Sembuh

Bacaan Injil: Markus 1: 40--45

40 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut dihadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, "Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku." 41 Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata kepadanya, "Aku mau, jadilah Engkau Tahir." 42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. 43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras, 44 "Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapapun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." 45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. 

KESAN SINGKAT:

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Kita mungkin pernah atau sering mendengar ungkapan ini, "Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan." Hal ini bisa dibenarkan kalau kita kaitkan dengan pengalaman nyata kita setiap hari. Tak jarang kita gagal atau tidak maju-maju dalam hidup hanya karena tidak memiliki kemauan untuk melakukan. Dalam konteks bacaan Injil hari ini, si kusta memiliki kemauan yang kuat untuk sembuh.  Kalau kita refleksikan secara mendalam, kemauan kuat si kusta akan rahmat kesembuhan Tuhan dapat dijelaskan seperti ini.

    Pertama, si kusta memiliki pengetahuan tentang siapa Yesus. Tindakan si kusta seperti datang kepada Yesus, berlutut, dan memohon, menunjukkan pengetahuannya tentang siapa itu Yesus. Dia memiliki pengetahuan tentang Yesus, entah dari  hasil pembacaannya maupun pengalaman atau kesaksian orang tentang Yesus kala itu. Yesus baginya adalah penyembuh. Kedua, keyakinan. Pengetahuan tanpa keyakinan tidak akan memiliki efek yang berarti. Si kusta tahu bahwa Yesus itu penyembuh. Pengetahuannya akan menjadi sia-sia apabila dia tidak memiliki keyakinan yang kuat bahwa Tuhan dapat menyembuhkan penyakitnya. Ketiga, aksi. Keyakinan kuat bahwa Yesus bisa menyembuhkan telah menggerakkan si kusta untuk datang dan memohon kepada Tuhan. Dia datang kepada Yesus, berlutut, dan memohon untuk sembuh. Bagaimana reaksi Yesus? Yesus tahu sepenuhnya maksud dibalik kedatangan dan kemauan si kusta. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan sembuhlah  dia.  

    Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Sekali lagi, "Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan." Namun perlu ditambahkan bahwa tidak cukup kalau hanya ada kemauan. Dengan kata lain, di mana ada kemauan, belum tentu ada jalan kalau kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang apa tujuan kita, seberapa kita yakin akan hal itu, dan apakah kita melakukannya atau hanya sebatas kemauan. Akhirnya, seperti halnya si kusta, mari kita datang kepada Tuhan, berlutut dengan kerendahan hati, dan memohon agar Tuhan mau mendengarkan kita dan mengabulkan segala niat baik hati kita. Semoga. Amin.

Jumat, 05 Januari 2024

Aktif dan Inisiatif Menjawab Panggilan Kudus Allah

Refleksi Ibadat Natal Bersama RC Catholic

Jumat, 5 Januari 2024

Tempat: Sekolah Regina Caeli

Waktu: 12.00–13.00

Bacaan Injil: Yoh. 1:43–51

      Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Selamat pesta Natal untuk kita semua. Kita berkumpul siang hari ini, untuk merayakan pesta Natal secara bersama dalam nuansa penuh sukacita. Di bawah tema: "Menjawab panggilan Tuhan dalam semangat jiwa penuh sukacita,” marilah kita sejenak memaknai Natal sebagai peristiwa Allah yang menunjukkan inisiatif mendekati manusia, karena kebesaran kasihnya kepada manusia. 

      Penginjil Yohanes (Yoh. 1:43–51) mengajak kita, agar memaknai panggilan Tuhan dengan sikap aktif dan berinisiatif dalam kehidupan bersama. Mengapa aktif dan berinisiatif? Jawabannya adalah Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang aktif dan berinisiatif. Dia yang aktif hadir di tengah dunia dan berinisiatif untuk menjadi yang pertama menemukan dan memanggil Filipus menjadi murid-Nya. Filipus juga demikian. Ia tidak tinggal diam atau pasif sebagai murid, malah aktif dan berinisiatif, bergerak mencari saudaranya Natanael (Bartolomeus) untuk berbagi berkat keselamatan. Natanael pun dinilai Yesus sebagai pribadi yang asli, tanpa pura-pura, sungguh-sungguh, dan benar-benar, Israel Sejati yang tidak ada kepalsuan dalam dirinya. Natanael adalah ciri khas pribadi yang bukan hanya baik (hati), melainkan memiliki daya kritis (akal budi/pikiran) mempertanyakan, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret,” yang diliputi situasi krisis itu? Pertanyaan Natanael lahir dari kepekaan terhadap situasi di sekitar yang sedang tidak baik-baik saja.

      Seperti halnya, Filipus dan Natanael, kita semua dipanggil Tuhan bukan karena kita memiliki predikat sebagai orang suci atau kudus. Kita akan menjadi kudus atau suci, karena dipanggil Tuhan. Kekudusan bukan menjadi prasyarat atau syarat dipanggil Tuhan, melainkan panggilan Tuhan justru menjadi syarat hidup dalam kekudusan. Maka, berbahagialah kita semua, karena kita adalah orang pilihan yang memiliki potensi menjadi suci atau kudus, sejauh kita memberi respek pada panggilan itu dengan cara hidup yang baik. Bahwa kita berdosa, itu suatu hal yang asali dan tidak dapat dimungkiri, tetapi karena besarnya Kasih Allah, kedosaan kita justru terlampaui. Semestinya kita patut bersyukur, karena sekalipun kita dipilih dalam kondisi yang berdosa dan fana, Kasih Allah tetap dinyatakan secara sempurna dalam diri Yesus Kristus, demi kekudusan kita. Pertanyaan untuk kita, apa tanggapan kita terhadap panggilan kudus Allah dalam hubungannya dengan peristiwa Natal? Apa wujud konkret rasa syukur kita sebagai orang pilihan Tuhan di hari-hari ini? 

Semoga kita dimampukan. AMIN.

Inisiatif Mengenal

Bacaan Injil: Yoh. 1:29--34

Yohanes menunjuk kepada Yesus

1:29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. 1:30 Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. 1:31 Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel." 1:32 Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. 1:33 Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. 1:34 Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."

KESAN SINGKAT:

        Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Setiap kita pasti ingin mengenal dan dikenal orang lain. Pertanyaan untuk kita, bagaimana kita bisa mengenal dan dikenal orang lain? Pertama, inisiatif untuk memperkenalkan diri. Jika kita memiliki hasrat untuk dikenal orang lain, tentu kita harus bersikap terbuka dengan cara bersahabat dan menunjukkan ketertarikan untuk berelasi dengan orang lain. Dalam injil Yohanes 1:29--34, Tuhan mengambil inisiatif untuk dikenal oleh Yohanes. Di sini, Tuhan mengajarkan bahwa kepercayaan dan sikap saling percaya akan bertumbuh dan berkembang dengan baik, jika kita saling terbuka. Kedua, ketika orang lain sudah berinisiatif memperkenalkan diri, sikap kita adalah merespon keterbukaan hati orang lain. Ada banyak orang yang belum sepenuhnya mengenal orang lain, kendati sudah hidup berdampingan bertahun-tahun. Hal ini terjadi karena orang merasa cukup untuk mengenal sesamanya. Sikap merasa cukup akan berdampak pada keengganan untuk mengenal secara mendalam. Begitu pun iman kita akan Tuhan. Iman yang dangkal terjadi karena kita merasa diri cukup untuk mengenal Tuhan. Yohanes awalnya tidak mengenal Yesus yang adalah Mesias. Dia baru mengenal Tuhan dengan baik setelah Tuhan memperkenalkan diri kepadanya. Pengenalan Yohanes akan Tuhan membuatnya mampu memberikan pengakuan iman yang luar biasa akan Tuhan. Yohanes adalah tipikal manusia yang selalu merasa lapar, karena ingin mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Kita pun demikian. Tuhan mengajak kita untuk selalu merasa belum cukup mengenalnya, sehingga kita terus memperbarui diri sampai kita menemukan iman yang mantap dan matang sebagaimana halnya Yohanes. Ketiga, kalau kita sudah mengenal Tuhan secara matang dan mantap, langkah selanjutnya adalah membangun komitmen untuk mempertahankan iman akan Tuhan melalui cara hidup yang benar sesuai firman Tuhan dan terhindar dari dosa. 

Semoga Tuhan memampukan kita. AMIN.

HERODES DAN PERIHAL BERSUMPAH

  BACAAN INJIL: MARKUS 6: 17--29 Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Saya sangat tertarik, untuk merefleksikan ayat-ayat dari I...