Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Selamat merayakan Paskah untuk kita semua.
Saya hendak mengajukan sebuah pertanyaan reflektif untuk kita semua: apa makna perayaan Paskah bagi saya dan Anda sekalian? Tentu jawaban atas pertanyaan ini membutuhkan permenungan yang dalam, bukan sekadar jawab atau ala kadarnya saja. Sebagai umat Katolik, jawaban kita merepresentasikan siapa kita, dan sejauh mana kualitas iman kita kepada Tuhan. Secara pribadi, saya memaknai perayaan Paskah dalam beberapa poin berikut ini.
Pertama, merayakan Paskah berarti kita melakukan selebrasi atas keberhasilan menunaikan ibadah puasa, terutama pertobatan. Saatnya kita menuai rahmat keselamatan, berkat pertobatan yang bukan hanya sekali kita lakukan, melainkan secara terus-menerus. Jadi, kebangkitan kita benar-benar buah dari perjuangan kita yang tiada henti untuk menjadi manusia yang lebih baik, menjadi pendosa yang mau bertobat.
Kedua, merayakan Paskah berarti jangan berhenti percaya dan berpengharapan kepada Tuhan. Kalau kita membaca Injil Yohanes pada hari ini, kita akan menemukan bahwa nasib/masa depan jiwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan akan dijamin kepastiannya oleh Tuhan sendiri. Yesus katakan, “Akulah Roti Hidup yang Turun dari Surga.” Roti di sini bukan dalam artian makanan jasmani, melainkan roti makanan jiwa rohani. Yesus adalah roti hidup yang menjamin kehidupan/keselamatan jiwa semua orang beriman. Maka, kedekatan kita dengan Tuhan akan menggaransi keselamatan/kebahagian jiwa kita. Kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan, agar kita beroleh jiwa yang hidup.
Ketiga, Paskah berarti memberi lampu bernyala bagi yang membutuhkan. Saya akan mengantar kita dalam sebuah cerita inspiratif berikut ini.
Diceritakan bahwa seorang buta hendak menghadiri pesta pernikahan temannya pada suatu malam. Saudara si buta mendengar rencananya. Untuk itu, saudaranya itu memberikan sebuah lampu lentera yang masih bernyala kepada si buta. Si buta menolak, karena baginya mau gelap atau terang sama saja baginya. Lampu tidak berguna apa-apa untuknya. Kendati ia menolak, saudaranya terus menyakininya, sebab keberadaan lampu itu sangat berguna bagi siapa saja yang melewati jalan yang sama dengan si buta nantinya, sehingga tidak terjadi tabrakan karena gelap. Akhirnya, si buta terpaksa menerima lampu tersebut, kemudian melakukan perjalanan dalam malam yang gelap gulita.
Di tengah jalan, si buta ditabrak oleh seseorang hingga membuat si buta marah. Ia berkata, "Apakah kamu buta juga hingga menabrak saya yang sedang membawa lampu bernyala ini? Rupa-rupanya kamu sengaja menambrak saya.” Orang tadi balik bertanya, "Lampumu sudah padam, Saudara. Tidakkah engkau tahu itu? Sekarang, siapa yang salah, kamu atau saya?”
Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Apa pesan penting yang boleh kita petik dari cerita ini.
Pertama, kita diminta untuk memberikan sesuatu yang berguna untuk orang lain. Kita diminta untuk memberikan lampu/terang untuk orang yang memang merasa gelap dalam banyak hal. Sejauh pemberian kita dirasa baik, pasti akan sangat berguna. Lampu untuk seorang buta memang tidak berguna, tetapi berguna untuk orang lain, agar menghindari tabrakkan dan bisa melihat si buta.
Kedua, kita hendaknya menyadari bahwa keberadaan kita di sini, entah sebagai apa saja, karena mau menjalankan tugas dan misi Tuhan Yesus, yaitu membawa terang, menjadi penjala manusia, menjadi sumber inspirasi, dan lain-lain. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk hidup santai, acuh tak acuh, masa bodoh, pura-pura, dan lain-lain.
Akhirnya, semoga kita menjadi sebuah lampu yang selalu bernyala bagi orang lain, lewat cara dan teladan hidup kita. Mari tidak jemu-jemunya berbuat baik, kalau bukan sekarang kapan lagi. Nanti keburu hujan. AMIN.









0 komentar:
Posting Komentar