This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 28 Agustus 2024

HERODES DAN PERIHAL BERSUMPAH

 

BACAAN INJIL: MARKUS 6: 17--29

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus.

Saya sangat tertarik, untuk merefleksikan ayat-ayat dari Injil Markus 6:22--26, karena kisah ini membawa kita pada kenyataan hidup yang sering kita hadapi, yaitu perihal sumpah atau janji yang kita buat. Kisah ini memperlihatkan bagaimana sebuah sumpah yang lahir dari dorongan kesenangan manusiawi dapat berujung pada keputusan yang tragis dan tidak bermoral.

Saya merenungkan bagaimana Raja Herodes, yang terpesona oleh tarian anak perempuan Herodias, memberikan sumpah yang begitu besar, hingga ia rela memberikan "setengah dari kerajaannya." Ini menunjukkan bahwa dalam momen euforia atau kesenangan sesaat, kita cenderung membuat janji-janji besar tanpa mempertimbangkan konsekuensi moral atau dampaknya. Bukan tidak mungkin, Herodes memberikan sumpahnya, bukan karena ada nilai moral di baliknya, melainkan karena ia ingin menyenangkan hati si penari dan menjaga kehormatannya di depan tamu-tamunya.

Saat saya memikirkan hal ini, saya sadar bahwa sering kali saya juga terjebak dalam situasi serupa. Ketika berada dalam situasi di mana saya ingin terlihat baik di hadapan orang lain, atau ketika emosi dan kesenangan menguasai diri, saya bisa tergoda untuk membuat sumpah atau janji yang pada akhirnya sulit untuk saya tepati atau bahkan menuntun saya pada tindakan yang salah. 

Ketika Herodes akhirnya memberikan kepala Yohanes Pembaptis, meskipun dengan hati yang berat, ia melakukannya karena sumpahnya yang sembrono. Ini menjadi peringatan bagi saya bahwa sumpah yang tidak didasari oleh pertimbangan moral yang matang, bisa berujung pada tindakan yang merusak, baik bagi diri saya sendiri maupun orang lain.

Dalam kehidupan nyata, sumpah atau janji adalah hal yang sakral dan harus dibuat dengan penuh kesadaran akan nilai-nilai moral. Saya belajar dari kisah ini bahwa setiap kata yang saya ucapkan, terutama dalam bentuk sumpah atau janji, haruslah dipertimbangkan dengan matang. Bukan hanya berdasarkan emosi atau keinginan sesaat, melainkan dengan kesadaran penuh akan dampak jangka panjangnya. Kesalahan Herodes tidak hanya pada sumpah yang ia buat, tetapi juga pada ketidakmampuannya, untuk mengakui kesalahan tersebut dan menarik kembali kata-katanya, demi kebaikan.

Akhirnya, refleksi ini mengingatkan saya bahwa dalam setiap sumpah atau janji, saya harus selalu mempertimbangkan, apakah itu didasari oleh moral yang kuat dan kebaikan bersama, atau hanya untuk memuaskan ego dan kesenangan sesaat. Dengan demikian, saya dapat menjaga integritas diri dan tidak terjebak dalam keputusan yang akan saya sesali di kemudian hari.


Kamis, 25 Juli 2024

RABUNI: GURU KEHIDUPAN, MENGHALAU KEGELAPAN


Bacaan Injil: Yoh. 20:1,11--18

20:1 Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.

Yoh 20:11 Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,

Yoh 20:12 dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.

Yoh 20:13 Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."

Yoh 20:14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Yoh 20:15 Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."

Yoh 20:16 Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.

Yoh 20:17 Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."

Yoh 20:18 Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

RENUNGAN SINGKAT:

Injil Yohanes hari ini mengisahkan kebangkitan Yesus dan penampakan-Nya kepada Maria Magdalena. Maria, yang begitu berduka atas kematian Yesus, menemukan kubur kosong dan menjadi murid yang pertama kali melihat Yesus yang bangkit. Perjumpaan ini bukan hanya bukti kebangkitan, melainkan transformasi iman Maria, dari kesedihan mendalam menjadi sukacita dan keyakinan penuh.

Di sini, kebangkitan Yesus mengajarkan kita bahwa di balik setiap duka dan kehilangan, ada harapan dan kebangkitan. Seperti halnya Maria Magdalena, kita dipanggil untuk mengenal kehadiran Tuhan, dalam momen-momen yang paling gelap dan menyampaikan kabar sukacita itu kepada dunia. AMIN.

Minggu, 16 Juni 2024

Perihal Menahan Diri

Bacaan Injil    : Mat. 5:27–32.

27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.   28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan  engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. 31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. 32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan istrinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.

KESAN SINGKAT:

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus.

Pada hari ini, Yesus memberikan sebuah pemahaman baru mengenai perzinahan. Sebuah pemahaman yang melampaui adat kebiasaan dan hukum keagamaan Yahudi, yang cenderung memandang perzinahan, hanya dalam konteks keterlibatan hubungan intim antara pria atau wanita dengan pria atau wanita, yang bukan istri atau suaminya. Yesus menekankan, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Bagi Yesus, perzinahan itu bukan hanya perihal perbuatan fisik-jasmaniah, melainkan lebih daripada itu adalah persoalan hati dan/atau pikiran, yang memiliki hasrat dan hawa nafsu yang kuat, untuk memandang dan menginginkan seseorang. Jadi, perzinahan adalah persoalan hasrat dan hawa nafsu dalam hati dan/atau pikiran, melampaui perbuatan fisik-jasmaniah.  

       Sebagai manusia, kita tentu pernah atau sedang memiliki hasrat dan hawa nafsu, yang membuat kita kerap jatuh ke dalam dosa. Namun, kita selalu diingatkan oleh Tuhan bahwa kemampuan untuk mengenali akar dosa, hingga mampu menahan diri terhadap godaan-godaan dosa adalah hal yang paling utama. Kemampuan untuk mengenali akar dosa dan menahan diri hanya akan terjadi, jika kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, melalui doa-doa kita. Amin.

Jumat, 17 Mei 2024

MATIKANLAH SESUATU YANG DUNIAWI DALAM DIRI

 

MATIKANLAH SESUATU YANG DUNIAWI DALAM DIRI

(Tinjauan Eksegetis atas Kol. 3: 5)

1.      Latar Belakang Penulisan Surat Paulus Kepada Jemaat di Kolose (William Barclay, 1981: 75-80).

            Kolose adalah satu dari tiga kota yang berdiri berdekatan di lembah sungai Lycius, kira-kira seratus mil dari Efesus. Kolose sangat terkenal sebagai kota provinsi yang besarnya kira-kira sama dengan kota Roma. Di sanalah dahulu Cicero biasa menerima tamu ketika menjabat sebagai prokonsul di Kolose. Dahulu Kolose adalah kota dagang yang penting, tapi sekarang tak ada satu batu pun yang menunjukkan letak kota itu.

            Adapun bahwa Gereja Kolose bukanlah Gereja yang didirikan Paulus. Malah Paulus belum pernah mengunjungi tempat itu. Orang Kolose termasuk dalam kumpulan orang-orang yang belum pernah melihat wajah Paulus (Kol. 2:1). Anggota-anggotanya asal kafir (non-Yahudi) yang dulunya menjauhi Allah (Kol. 1:21), tetapi sekarang telah mengenal kasih karunia Allah. Ada anggapan bahwa pendiri Gereja Kolose adalah Epafras. Dialah yang melayani umat itu ketika Paulus menulis surat ini (Kol. 1:7; 4:12). Epafraslah yang membawa berita-berita dari Kolose untuk Paulus (Kol. 1:7-8). Ada banyak berita yang menyenangkan yang dibawa oleh Epafras kepada Paulus seperti iman mereka pada Kristus serta cinta mereka terhadap sesama, juga tentang tertib hidup serta keteguhan iman mereka (Kol. 1:4-8; 2:5). Namun di samping situasi yang menggembirakan itu terselip berbagai hal yang mencemaskan hati Paulus. 

            Ada tiga kecemasan sekaligus ancaman bagi keberadaan umat Kristen di Kolose waktu itu, yakni pertama, bahaya Astrologi yakni kepercayaan yang menganggap planet-planet dan bintang-bintang sebagai dewa yang harus disembah oleh segenap umat manusia. Dewa-dewa ini memiliki kuasa atas manusia bahkan nasib manusia ditentukannnya. Implikasi lanjutan dari situasi ini adalah meluasnya praktik ramalan. Para peramal memanfaatkan momen ini untuk memperoleh uang atau keuntungan dengan bayaran tidak sedikit. Kedua, bahaya Syncretisme yakni ajaran agama campuran dengan adagiumnya: Tuhan adalah satu nama yang dipergunakan oleh semua agama. Misalnya, dalam rumah pribadi kaisar Aleksander Severus ada patung Abraham, Orpheus, Apolo dan Kristus. Ketiga, bahaya Gnostisisme yakni aliran yang memandang materi dan Allah sebagai sama-sama dari kekal. Jika dibandingkan dengan Allah yang sempurna, materi yang kekal tersebut cacat dan tidak sempurna. Bagi mereka Allah yang sempurna tidak bisa mencipta karena tidak dapat menyentuh materi yang kotor dan bercacat itu. Karena itu Allah mengirim emanasi dan emanasi itu mengeluarkan emanasi yang lainnya yang baru dan berada semakin jauh dari Allah, semakin tidak dikenal oleh Allah. Emansi yang terakhir inilah yang menciptakan dunia. Bahaya ajaran Gnostis adalah orang dapat saja berpikir bahwa karena materi itu buruk atau jahat, maka tubuh juga adalah jahat. Karena tubuh jahat, maka saya dapat berbuat apa saja dengan tubuh saya. Saya akan memuaskan semua keinginan dan nafsuku.

2.                  Tujuan Penulisan Surat Kolose Bagi Komunitas Kristennya

Apabila melihat latar belakang di atas kita menjumpai bahaya-bahaya yang menimpa umat di Kolose zaman Paulus. Mereka sedang berada dalam situasi degradasi moral akibat kehadiran ajaran-ajaran sesat. Ajaran-ajaran sesat tersebut mendominasi kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam bidang religius, jemaat mengalami kemerosotan iman akan Yesus Kristus. Melihat situasi yang demikian Paulus menasihati mereka melalui tulisan-tulisannya ini yakni pertama, terhadap situasi yang menyenangkan sebagaimana diberitakan oleh Epafras, Paulus senantiasa mengucap syukur dan berdoa terutama tentang iman mereka dalam Kristus Yesus serta kasih mereka terhadap semua orang kudus (Kol. 1: 3-4). Kedua, terhadap bahaya-bahaya atau ajaran sesat (Astrologi, syncretisme dan gnostisisme) yang mengancam kehidupan jemaat Kristen di Kolose, Paulus memberikan peneguhan iman kepada mereka agar selalu berhati-hati dan  tidak mengabdikan diri mereka kepada berbagai ajaran sesat tersebut. Dalam Kol. 2: 8, dia menegaskan kepada mereka bahwa berhati-hatilah terhadap filsafat kosong dan palsu menurut roh-roh dunia. Di sini Paulus bermaksud agar umat tidak percaya akan ajaran Astrologi yang berkembang luas zamannya. Bagi Paulus satu-satunya senjata utama yang dipegang  teguh oleh umat Kristen adalah percaya kepada kekuatan Kristus, bukan kepada hal-hal duniawi yang mudah binasa (Kol. 2: 20). Terhadap ajaran Syncretisme dan Gnostisisme, Paulus menegaskan hal sama yakni meneguhkan iman umat agar tetap setia dan percaya dengan teguh kepada Kristus.  

3. Tinjauan Eksegetis atas Kol. 3: 5

            Bunyi surat Kol. 3: 5: “Karena itu matikanlah dalam diri-mu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,”

            Penulis sangat tertarik mengeksegese atau menafsir teks Kol. 3: 5 ini karena sangat erat kaitannya dengan praksis hidup manusia pada umumnya yakni makhluk yang mudah jatuh dalam godaan duniawi seperti mamon, zinah dan sebagainya. Tentu di sini tanpa mengabaikan ayat yang lainnya dari surat Kolose ini.

            Dalam Kol. 3:5 di atas, Paulus memberikan nasihat atau kecaman keras kepada umat Kristen di Kolose agar menghindari segala bentuk perbuatan duniawi yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam cara hidup yang tidak Kristiani (dosa). Dalam ayat 5 di atas, Paulus menggunakan frase “matikanlah dalam dirimu sesuatu yang duniawi”. Pertanyaannya adalah adakah Paulus di sini mengikuti ajaran sesat (ajaran Gnostik: melihat materi itu jahat, maka tubuh itu juga jahat) yang menghina atau menindas tubuh? Bahwa tubuh itu harus dihancurkan atau dimusnahkan karena kefanaan atau ketidaksempurnaannya itu?

            Dalam konteks Kol. 3:5 di atas, Paulus tentu tidak mengikuti ajaran sesat karena ia sendiri sungguh mengecam berbagai ajaran sesat itu (Kol. 2:20). Paulus di sini tidak bermaksud membunuh eksistensi tubuh fisik manusia, tapi apa yang lahir atau hadir dari segala kecenderungan yang duniawi itulah yang harus dimusnahkan. Kata “matikanlah” merujuk pada sikap Paulus yang menentang kejanggalan-kejanggalan kehidupan duniawi-jasmani yang penuh dengan noda dosa. Dengan kata lain, Paulus tidak memberitakan pembunuhan tubuh fisik manusia, tetapi hanya menyerang pekerjaan dunia yang sarat akan kecenderungan jahat atau dosa. Singkatnya bahwa Paulus tidak membenci pendosanya, tapi ia membenci dosa atau kuasa kegelapannya. Bagi Paulus martabat manusia terlalu luhur untuk dihancurkan karena pendosa itu sendiri adalah citra atau gambaran wajah Allah yang Maharahim.

            Dalam ayat 5 di atas juga, Paulus menyebut lima kecenderungan atau pekerjaan duniawi yang harus dimatikan atau dimusnahkan dalam kehidupan umat Kristen di Kolose. Pertama, pencabulan. Pencabulan telah membuat manusia lain menjadi objek atau sasaran kebengisan hawa nafsu, yang satu memakai yang lain. Rupanya praktik cabul ini sudah lumrah dipraktikan dalam agama-agama Yunani zaman Paulus waktu menulis surat ini. Dalam agama Yunani praktik cabul sudah mendapat legitimasi dan kesetiaan dalam nikah tidak diperhatikan lagi. (bdk. M. H. Bolkestein, 1996: 107). Kedua, najis. Banyak juga dipraktikan dalam kehidupan masyarakat Yunani ketika surat ini ditulis. Perbuatan najis dapat berupa homoseksualitas (Rom. 1:24). Ketiga, hawa nafsu. Nafsu selalu punya intensi untuk mengantar orang ke dalam hidup menurut keinginannya. Hawa nafsu di sini tidak hanya sebatas pada kelamin, tapi juga terdapat dalam tindakan yang berdasarkan keinginan daging. Keempat, nafsu jahat. Nafsu jenis ini bukan hanya sekedar pelampiasan keinginan tertentu tetapi keinginan tersebut disertai dengan kejahatan yang berdaya merusak. Kelima, ketamakan atau keserakahan. Tamak merupakan salah satu bentuk penyembahan berhala (Ef. 4:19, 5: 3, 5). Orang tamak selalu melihat sesuatu dari perspektif untungnya dari sebuah tindakan, meskipun perbuatan itu merugikan orang lain. Orang tamak adalah hamba uang, hamba kekayaan. Uang adalah dewanya. (bdk. M. H. Bolkestein, 1996: 108). Di sini hanya mau mengatakan bahwa ketika orang mendewakan uang atau mamon, maka yang terjadi adalah praktik ketidakadilan sosial, lenyapnya kepedulian sosial.

            Dari beberapa tinjauan eksegetis atas Kol. 3:5 di atas, penulis akhirnya menemukan aneka nilai kebajikan yang dapat dijadikan sarana pembantu dalam praksis hidup setiap hari. Nilai-nilai kebajikan itu adalah sikap untuk meninggalkan atau menjauhkan diri dari pelbagai kecenderungan duniawi seperti pencabulan, nafsu jahat, hawa nafsu, tamak dan kenajisan. Kelima kecenderungan di atas tentunya hanya sebagian dari aneka banyak kecenderungan duniawi lainnya. Di sini hanya mau mengatakan bahwa sebagai pengikut Kristus kita harus berani menyatakan perang dengan kecenderungan badaniah yang merusak relasi kita dengan Allah dan sesama manusia. Pemfokusan diri akan hal-hal yang berbau duniawi atau jasmaniah akan mengantar kita para spiritualitas hidup antihuman karena sikap bela rasa, tindakan kasih dan kepedulian sosial sudah dijejali oleh ego diri. Maka, kita diajak untuk memperkuat spiritualitas berbasis humanitas yang penuh dengan solidaritas kepada sesama manusia dengan kasih Kristus sendiri.

SUMBER:

Barclay, William. Penulis dan Warta Perjanjian Baru Penterj. Eduard Jebarus

            Ende: Nusa Indah, 1981.

Bolkestein, M. H. Tafsiran Kolose. Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1996.

Senin, 06 Mei 2024

KASIH TUHAN MELEBIHI KASIH KITA


Bacaan Injil: Yoh. 15:9--17.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.
12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu      minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Demikianlah Sabda Tuhan:

Renungan Singkat:

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Pada hari ini, Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi, seperti Dia telah mengasihi kita. Poin penting yang mau ditekankan di sini adalah sebelum kita mengasihi, Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Kita bisa saling mengasihi hanya karena Tuhan, bukan sebaliknya, Tuhan mengasihi, karena kita mengasihi. Kasih Tuhan tidak ditentukan kondisi dan/atau situasi hidup kita. 

Bagi kita sebagai pengikut Kristus, perintah untuk saling mengasihi menuntut sebuah kesetiaan. Memang belajar menjadi setia dan tetap setia tidaklah mudah. Namun, kita hanya perlu kesadaran diri sebagai penopang kesetiaan kita. Sebuah kesadaran yang lahir dari hati dan pikiran, yang berimbas pada cara bertutur dan bertindak kita. 

Kita hanya akan setia dan tetap setia, kalau kita menyadari tujuan panggilan hidup kita masing-masing. Sadar tujuan, penting untuk menghindari jalan yang salah. Kita juga hendaknya menyadari bahwa kesetiaan kita untuk bertahan sejauh ini, karena rahmat dan nikmat yang diberikan Tuhan. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak setia kepada Tuhan.

Akhirnya, setiap hari, Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kasih. Apakah kita mendengarkan panggilan Tuhan atau hanya sebatas mendengar saja?

Mari kita refleksikan dalam diri kita masing-masing. Tuhan memberkati hidup kita. AMIN.

Jumat, 19 April 2024

PERIHAL MENJADI LAMPU BERNYALA: PEMAKNAAN PASKAH BERSAMA PTK SEKOLAH REGINA CAELI

 

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Selamat merayakan Paskah untuk kita semua.
Saya hendak mengajukan sebuah pertanyaan reflektif untuk kita semua: apa makna perayaan Paskah bagi saya dan Anda sekalian? Tentu jawaban atas pertanyaan ini membutuhkan permenungan yang dalam, bukan sekadar jawab atau ala kadarnya saja. Sebagai umat Katolik, jawaban kita merepresentasikan siapa kita, dan sejauh mana kualitas iman kita kepada Tuhan. Secara pribadi, saya memaknai perayaan Paskah dalam beberapa poin berikut ini.

Pertama, merayakan Paskah berarti kita melakukan selebrasi atas keberhasilan menunaikan ibadah puasa, terutama pertobatan. Saatnya kita menuai rahmat keselamatan, berkat pertobatan yang bukan hanya sekali kita lakukan, melainkan secara terus-menerus. Jadi, kebangkitan kita benar-benar buah dari perjuangan kita yang tiada henti untuk menjadi manusia yang lebih baik, menjadi pendosa yang mau bertobat. 

Kedua, merayakan Paskah berarti jangan berhenti percaya dan berpengharapan kepada Tuhan. Kalau kita membaca Injil Yohanes pada hari ini, kita akan menemukan bahwa nasib/masa depan jiwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan akan dijamin kepastiannya oleh Tuhan sendiri. Yesus katakan, “Akulah Roti Hidup yang Turun dari Surga.” Roti di sini bukan dalam artian makanan jasmani, melainkan roti makanan jiwa rohani. Yesus adalah roti hidup yang menjamin kehidupan/keselamatan jiwa semua orang beriman. Maka, kedekatan kita dengan Tuhan akan menggaransi keselamatan/kebahagian jiwa kita. Kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan, agar kita beroleh jiwa yang hidup. 

Ketiga, Paskah berarti memberi lampu bernyala bagi yang membutuhkan. Saya akan mengantar kita dalam sebuah cerita inspiratif berikut ini.

Diceritakan bahwa seorang buta hendak menghadiri pesta pernikahan temannya pada suatu malam. Saudara si buta mendengar rencananya. Untuk itu, saudaranya itu memberikan sebuah lampu lentera yang masih bernyala kepada si buta. Si buta menolak, karena baginya mau gelap atau terang sama saja baginya. Lampu tidak berguna apa-apa untuknya. Kendati ia menolak, saudaranya terus menyakininya, sebab keberadaan lampu itu sangat berguna bagi siapa saja yang melewati jalan yang sama dengan si buta nantinya, sehingga tidak terjadi tabrakan karena gelap. Akhirnya, si buta terpaksa menerima lampu tersebut, kemudian melakukan perjalanan dalam malam yang gelap gulita.
Di tengah jalan, si buta ditabrak oleh seseorang hingga membuat si buta marah. Ia berkata, "Apakah kamu buta juga hingga menabrak saya yang sedang membawa lampu bernyala ini? Rupa-rupanya kamu sengaja menambrak saya.” Orang tadi balik bertanya, "Lampumu sudah padam, Saudara. Tidakkah engkau tahu itu? Sekarang, siapa yang salah, kamu atau saya?”

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Apa pesan penting yang boleh kita petik dari cerita ini.

Pertama, kita diminta untuk memberikan sesuatu yang berguna untuk orang lain. Kita diminta untuk memberikan lampu/terang untuk orang yang memang merasa gelap dalam banyak hal. Sejauh pemberian kita dirasa baik, pasti akan sangat berguna. Lampu untuk seorang buta memang tidak berguna, tetapi berguna untuk orang lain, agar menghindari tabrakkan dan bisa melihat si buta.

Kedua, kita hendaknya menyadari bahwa keberadaan kita di sini, entah sebagai apa saja, karena mau menjalankan tugas dan misi Tuhan Yesus, yaitu membawa terang, menjadi penjala manusia, menjadi sumber inspirasi, dan lain-lain. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk hidup santai, acuh tak acuh, masa bodoh, pura-pura, dan lain-lain. 

Akhirnya, semoga kita menjadi sebuah lampu yang selalu bernyala bagi orang lain, lewat cara dan teladan hidup kita. Mari tidak jemu-jemunya berbuat baik, kalau bukan sekarang kapan lagi. Nanti keburu hujan. AMIN.



Senin, 01 April 2024

DI BALIK PENYANGKALAN PETRUS

 

Bacaan Injil: Yoh 13: 21--33.36--38.
21 Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."
22 Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya.
23 Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya.
24 Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: "Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!"
25 Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, siapakah itu?"
26 Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.
27 Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera."
28 Tetapi tidak ada seorangpun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas.
29 Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin.
30 Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.
31 Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.
32 Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.
33 Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu.
36 Simon Petrus berkata kepada Yesus: "Tuhan, ke manakah Engkau pergi?" Jawab Yesus: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku."
37 Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!"
38 Jawab Yesus: "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."

KESAN SINGKAT:

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. 
    Saya sangat tertarik untuk merefleksikan ayat 38b yang berbunyi, "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." 
    Setidaknya tiga hal ini perlu kita refleksikan:
  Pertama, menyangkal atau disangkal dapat menjadi pengalaman yang menyakitkan, tetapi juga merupakan panggilan untuk memperkuat komitmen kita terhadap iman dan prinsip-prinsip kekatolikan kita. Dari penyangkalan Petrus, kita belajar betapa pentingnya menjaga kesetiaan kepada Tuhan, bahkan dalam situasi yang sulit atau tergoda untuk menarik diri.
    Kedua, pengalaman menyangkal atau disangkal dapat menjadi kesempatan untuk introspeksi diri dan mengevaluasi sejauh mana kita mengikuti jalan iman yang benar.
    Ketiga, kita dipanggil untuk menghayati kasih dan pengampunan Allah, serta memberikannya kepada orang lain. Dengan demikian, pengalaman menyangkal atau disangkal juga dapat menjadi peluang untuk memperdalam hubungan kita dengan Tuhan, melalui pengakuan dosa, pertobatan, dan menerima belas kasihan Tuhan.

HERODES DAN PERIHAL BERSUMPAH

  BACAAN INJIL: MARKUS 6: 17--29 Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Saya sangat tertarik, untuk merefleksikan ayat-ayat dari I...