This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 28 Agustus 2024

HERODES DAN PERIHAL BERSUMPAH

 

BACAAN INJIL: MARKUS 6: 17--29

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus.

Saya sangat tertarik, untuk merefleksikan ayat-ayat dari Injil Markus 6:22--26, karena kisah ini membawa kita pada kenyataan hidup yang sering kita hadapi, yaitu perihal sumpah atau janji yang kita buat. Kisah ini memperlihatkan bagaimana sebuah sumpah yang lahir dari dorongan kesenangan manusiawi dapat berujung pada keputusan yang tragis dan tidak bermoral.

Saya merenungkan bagaimana Raja Herodes, yang terpesona oleh tarian anak perempuan Herodias, memberikan sumpah yang begitu besar, hingga ia rela memberikan "setengah dari kerajaannya." Ini menunjukkan bahwa dalam momen euforia atau kesenangan sesaat, kita cenderung membuat janji-janji besar tanpa mempertimbangkan konsekuensi moral atau dampaknya. Bukan tidak mungkin, Herodes memberikan sumpahnya, bukan karena ada nilai moral di baliknya, melainkan karena ia ingin menyenangkan hati si penari dan menjaga kehormatannya di depan tamu-tamunya.

Saat saya memikirkan hal ini, saya sadar bahwa sering kali saya juga terjebak dalam situasi serupa. Ketika berada dalam situasi di mana saya ingin terlihat baik di hadapan orang lain, atau ketika emosi dan kesenangan menguasai diri, saya bisa tergoda untuk membuat sumpah atau janji yang pada akhirnya sulit untuk saya tepati atau bahkan menuntun saya pada tindakan yang salah. 

Ketika Herodes akhirnya memberikan kepala Yohanes Pembaptis, meskipun dengan hati yang berat, ia melakukannya karena sumpahnya yang sembrono. Ini menjadi peringatan bagi saya bahwa sumpah yang tidak didasari oleh pertimbangan moral yang matang, bisa berujung pada tindakan yang merusak, baik bagi diri saya sendiri maupun orang lain.

Dalam kehidupan nyata, sumpah atau janji adalah hal yang sakral dan harus dibuat dengan penuh kesadaran akan nilai-nilai moral. Saya belajar dari kisah ini bahwa setiap kata yang saya ucapkan, terutama dalam bentuk sumpah atau janji, haruslah dipertimbangkan dengan matang. Bukan hanya berdasarkan emosi atau keinginan sesaat, melainkan dengan kesadaran penuh akan dampak jangka panjangnya. Kesalahan Herodes tidak hanya pada sumpah yang ia buat, tetapi juga pada ketidakmampuannya, untuk mengakui kesalahan tersebut dan menarik kembali kata-katanya, demi kebaikan.

Akhirnya, refleksi ini mengingatkan saya bahwa dalam setiap sumpah atau janji, saya harus selalu mempertimbangkan, apakah itu didasari oleh moral yang kuat dan kebaikan bersama, atau hanya untuk memuaskan ego dan kesenangan sesaat. Dengan demikian, saya dapat menjaga integritas diri dan tidak terjebak dalam keputusan yang akan saya sesali di kemudian hari.


HERODES DAN PERIHAL BERSUMPAH

  BACAAN INJIL: MARKUS 6: 17--29 Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Saya sangat tertarik, untuk merefleksikan ayat-ayat dari I...