MATIKANLAH SESUATU YANG
DUNIAWI DALAM DIRI
(Tinjauan Eksegetis atas
Kol. 3: 5)
1.
Latar Belakang Penulisan Surat Paulus Kepada Jemaat di Kolose (William
Barclay, 1981: 75-80).
Kolose adalah satu dari tiga kota yang berdiri berdekatan
di lembah sungai Lycius, kira-kira seratus mil dari Efesus. Kolose sangat
terkenal sebagai kota provinsi yang besarnya kira-kira sama dengan kota Roma.
Di sanalah dahulu Cicero biasa menerima tamu ketika menjabat sebagai prokonsul
di Kolose. Dahulu Kolose adalah kota dagang yang penting, tapi sekarang tak ada
satu batu pun yang menunjukkan letak kota itu.
Adapun bahwa Gereja Kolose bukanlah Gereja yang didirikan
Paulus. Malah Paulus belum pernah mengunjungi tempat itu. Orang Kolose termasuk
dalam kumpulan orang-orang yang belum pernah melihat wajah Paulus (Kol. 2:1).
Anggota-anggotanya asal kafir (non-Yahudi) yang dulunya menjauhi Allah (Kol.
1:21), tetapi sekarang telah mengenal kasih karunia Allah. Ada anggapan bahwa
pendiri Gereja Kolose adalah Epafras. Dialah yang melayani umat itu ketika
Paulus menulis surat ini (Kol. 1:7; 4:12). Epafraslah yang membawa
berita-berita dari Kolose untuk Paulus (Kol. 1:7-8). Ada banyak berita yang
menyenangkan yang dibawa oleh Epafras kepada Paulus seperti iman mereka pada
Kristus serta cinta mereka terhadap sesama, juga tentang tertib hidup serta
keteguhan iman mereka (Kol. 1:4-8; 2:5). Namun di samping situasi yang
menggembirakan itu terselip berbagai hal yang mencemaskan hati Paulus.
Ada tiga kecemasan sekaligus ancaman bagi keberadaan umat Kristen di Kolose waktu itu, yakni pertama, bahaya Astrologi yakni kepercayaan yang menganggap planet-planet dan bintang-bintang sebagai dewa yang harus disembah oleh segenap umat manusia. Dewa-dewa ini memiliki kuasa atas manusia bahkan nasib manusia ditentukannnya. Implikasi lanjutan dari situasi ini adalah meluasnya praktik ramalan. Para peramal memanfaatkan momen ini untuk memperoleh uang atau keuntungan dengan bayaran tidak sedikit. Kedua, bahaya Syncretisme yakni ajaran agama campuran dengan adagiumnya: Tuhan adalah satu nama yang dipergunakan oleh semua agama. Misalnya, dalam rumah pribadi kaisar Aleksander Severus ada patung Abraham, Orpheus, Apolo dan Kristus. Ketiga, bahaya Gnostisisme yakni aliran yang memandang materi dan Allah sebagai sama-sama dari kekal. Jika dibandingkan dengan Allah yang sempurna, materi yang kekal tersebut cacat dan tidak sempurna. Bagi mereka Allah yang sempurna tidak bisa mencipta karena tidak dapat menyentuh materi yang kotor dan bercacat itu. Karena itu Allah mengirim emanasi dan emanasi itu mengeluarkan emanasi yang lainnya yang baru dan berada semakin jauh dari Allah, semakin tidak dikenal oleh Allah. Emansi yang terakhir inilah yang menciptakan dunia. Bahaya ajaran Gnostis adalah orang dapat saja berpikir bahwa karena materi itu buruk atau jahat, maka tubuh juga adalah jahat. Karena tubuh jahat, maka saya dapat berbuat apa saja dengan tubuh saya. Saya akan memuaskan semua keinginan dan nafsuku.
2.
Tujuan Penulisan Surat Kolose Bagi Komunitas Kristennya
Apabila
melihat latar belakang di atas kita menjumpai bahaya-bahaya yang menimpa umat
di Kolose zaman Paulus. Mereka sedang berada dalam situasi degradasi moral
akibat kehadiran ajaran-ajaran sesat. Ajaran-ajaran sesat tersebut mendominasi
kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam bidang religius, jemaat mengalami kemerosotan
iman akan Yesus Kristus. Melihat situasi yang demikian Paulus menasihati mereka
melalui tulisan-tulisannya ini yakni pertama, terhadap situasi yang
menyenangkan sebagaimana diberitakan oleh Epafras, Paulus senantiasa
mengucap syukur dan berdoa terutama tentang iman mereka dalam Kristus Yesus
serta kasih mereka terhadap semua orang kudus (Kol. 1: 3-4). Kedua, terhadap
bahaya-bahaya atau ajaran sesat (Astrologi, syncretisme dan gnostisisme) yang
mengancam kehidupan jemaat Kristen di Kolose, Paulus memberikan peneguhan iman
kepada mereka agar selalu berhati-hati dan tidak mengabdikan diri mereka
kepada berbagai ajaran sesat tersebut. Dalam Kol. 2: 8, dia menegaskan kepada
mereka bahwa berhati-hatilah terhadap filsafat kosong dan palsu menurut roh-roh
dunia. Di sini Paulus bermaksud agar umat tidak percaya akan ajaran Astrologi
yang berkembang luas zamannya. Bagi Paulus satu-satunya senjata utama yang
dipegang teguh oleh umat Kristen adalah percaya kepada kekuatan Kristus,
bukan kepada hal-hal duniawi yang mudah binasa (Kol. 2: 20). Terhadap ajaran
Syncretisme dan Gnostisisme, Paulus menegaskan hal sama yakni meneguhkan iman
umat agar tetap setia dan percaya dengan teguh kepada Kristus.
3. Tinjauan Eksegetis atas
Kol. 3: 5
Bunyi surat Kol. 3: 5: “Karena itu matikanlah dalam
diri-mu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu,
nafsu jahat, dan keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,”
Penulis sangat tertarik mengeksegese atau menafsir teks
Kol. 3: 5 ini karena sangat erat kaitannya dengan praksis hidup manusia pada
umumnya yakni makhluk yang mudah jatuh dalam godaan duniawi seperti mamon,
zinah dan sebagainya. Tentu di sini tanpa mengabaikan ayat yang lainnya dari
surat Kolose ini.
Dalam Kol. 3:5 di atas, Paulus memberikan nasihat atau
kecaman keras kepada umat Kristen di Kolose agar menghindari segala bentuk
perbuatan duniawi yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam cara hidup yang
tidak Kristiani (dosa). Dalam ayat 5 di atas, Paulus menggunakan frase “matikanlah
dalam dirimu sesuatu yang duniawi”. Pertanyaannya adalah adakah Paulus di
sini mengikuti ajaran sesat (ajaran Gnostik: melihat materi itu jahat, maka
tubuh itu juga jahat) yang menghina atau menindas tubuh? Bahwa tubuh itu harus
dihancurkan atau dimusnahkan karena kefanaan atau ketidaksempurnaannya itu?
Dalam konteks Kol. 3:5 di atas, Paulus tentu tidak
mengikuti ajaran sesat karena ia sendiri sungguh mengecam berbagai ajaran sesat
itu (Kol. 2:20). Paulus di sini tidak bermaksud membunuh eksistensi tubuh fisik
manusia, tapi apa yang lahir atau hadir dari segala kecenderungan yang duniawi
itulah yang harus dimusnahkan. Kata “matikanlah” merujuk pada sikap Paulus yang
menentang kejanggalan-kejanggalan kehidupan duniawi-jasmani yang penuh dengan
noda dosa. Dengan kata lain, Paulus tidak memberitakan pembunuhan tubuh fisik
manusia, tetapi hanya menyerang pekerjaan dunia yang sarat akan kecenderungan
jahat atau dosa. Singkatnya bahwa Paulus tidak membenci pendosanya, tapi ia
membenci dosa atau kuasa kegelapannya. Bagi Paulus martabat manusia terlalu
luhur untuk dihancurkan karena pendosa itu sendiri adalah citra atau gambaran
wajah Allah yang Maharahim.
Dalam ayat 5 di atas juga, Paulus menyebut lima
kecenderungan atau pekerjaan duniawi yang harus dimatikan atau dimusnahkan
dalam kehidupan umat Kristen di Kolose. Pertama, pencabulan. Pencabulan
telah membuat manusia lain menjadi objek atau sasaran kebengisan hawa nafsu,
yang satu memakai yang lain. Rupanya praktik cabul ini sudah lumrah dipraktikan
dalam agama-agama Yunani zaman Paulus waktu menulis surat ini. Dalam agama
Yunani praktik cabul sudah mendapat legitimasi dan kesetiaan dalam nikah tidak
diperhatikan lagi. (bdk. M. H. Bolkestein, 1996: 107). Kedua, najis.
Banyak juga dipraktikan dalam kehidupan masyarakat Yunani ketika surat ini
ditulis. Perbuatan najis dapat berupa homoseksualitas (Rom. 1:24). Ketiga,
hawa nafsu. Nafsu selalu punya intensi untuk mengantar orang ke dalam hidup
menurut keinginannya. Hawa nafsu di sini tidak hanya sebatas pada kelamin, tapi
juga terdapat dalam tindakan yang berdasarkan keinginan daging. Keempat, nafsu
jahat. Nafsu jenis ini bukan hanya sekedar pelampiasan keinginan tertentu
tetapi keinginan tersebut disertai dengan kejahatan yang berdaya merusak. Kelima,
ketamakan atau keserakahan. Tamak merupakan salah satu bentuk penyembahan
berhala (Ef. 4:19, 5: 3, 5). Orang tamak selalu melihat sesuatu dari perspektif
untungnya dari sebuah tindakan, meskipun perbuatan itu merugikan orang lain.
Orang tamak adalah hamba uang, hamba kekayaan. Uang adalah dewanya. (bdk. M. H.
Bolkestein, 1996: 108). Di sini hanya mau mengatakan bahwa ketika orang
mendewakan uang atau mamon, maka yang terjadi adalah praktik ketidakadilan
sosial, lenyapnya kepedulian sosial.
Dari beberapa tinjauan eksegetis atas Kol. 3:5 di atas,
penulis akhirnya menemukan aneka nilai kebajikan yang dapat dijadikan sarana
pembantu dalam praksis hidup setiap hari. Nilai-nilai kebajikan itu adalah
sikap untuk meninggalkan atau menjauhkan diri dari pelbagai kecenderungan
duniawi seperti pencabulan, nafsu jahat, hawa nafsu, tamak dan kenajisan.
Kelima kecenderungan di atas tentunya hanya sebagian dari aneka banyak
kecenderungan duniawi lainnya. Di sini hanya mau mengatakan bahwa sebagai
pengikut Kristus kita harus berani menyatakan perang dengan kecenderungan
badaniah yang merusak relasi kita dengan Allah dan sesama manusia. Pemfokusan
diri akan hal-hal yang berbau duniawi atau jasmaniah akan mengantar kita para
spiritualitas hidup antihuman karena sikap bela rasa, tindakan kasih dan
kepedulian sosial sudah dijejali oleh ego diri. Maka, kita diajak untuk
memperkuat spiritualitas berbasis humanitas yang penuh dengan solidaritas
kepada sesama manusia dengan kasih Kristus sendiri.
SUMBER:
Barclay, William. Penulis
dan Warta Perjanjian Baru Penterj. Eduard Jebarus.
Ende: Nusa Indah, 1981.
Bolkestein, M. H. Tafsiran Kolose. Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1996.













