This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 17 Mei 2024

MATIKANLAH SESUATU YANG DUNIAWI DALAM DIRI

 

MATIKANLAH SESUATU YANG DUNIAWI DALAM DIRI

(Tinjauan Eksegetis atas Kol. 3: 5)

1.      Latar Belakang Penulisan Surat Paulus Kepada Jemaat di Kolose (William Barclay, 1981: 75-80).

            Kolose adalah satu dari tiga kota yang berdiri berdekatan di lembah sungai Lycius, kira-kira seratus mil dari Efesus. Kolose sangat terkenal sebagai kota provinsi yang besarnya kira-kira sama dengan kota Roma. Di sanalah dahulu Cicero biasa menerima tamu ketika menjabat sebagai prokonsul di Kolose. Dahulu Kolose adalah kota dagang yang penting, tapi sekarang tak ada satu batu pun yang menunjukkan letak kota itu.

            Adapun bahwa Gereja Kolose bukanlah Gereja yang didirikan Paulus. Malah Paulus belum pernah mengunjungi tempat itu. Orang Kolose termasuk dalam kumpulan orang-orang yang belum pernah melihat wajah Paulus (Kol. 2:1). Anggota-anggotanya asal kafir (non-Yahudi) yang dulunya menjauhi Allah (Kol. 1:21), tetapi sekarang telah mengenal kasih karunia Allah. Ada anggapan bahwa pendiri Gereja Kolose adalah Epafras. Dialah yang melayani umat itu ketika Paulus menulis surat ini (Kol. 1:7; 4:12). Epafraslah yang membawa berita-berita dari Kolose untuk Paulus (Kol. 1:7-8). Ada banyak berita yang menyenangkan yang dibawa oleh Epafras kepada Paulus seperti iman mereka pada Kristus serta cinta mereka terhadap sesama, juga tentang tertib hidup serta keteguhan iman mereka (Kol. 1:4-8; 2:5). Namun di samping situasi yang menggembirakan itu terselip berbagai hal yang mencemaskan hati Paulus. 

            Ada tiga kecemasan sekaligus ancaman bagi keberadaan umat Kristen di Kolose waktu itu, yakni pertama, bahaya Astrologi yakni kepercayaan yang menganggap planet-planet dan bintang-bintang sebagai dewa yang harus disembah oleh segenap umat manusia. Dewa-dewa ini memiliki kuasa atas manusia bahkan nasib manusia ditentukannnya. Implikasi lanjutan dari situasi ini adalah meluasnya praktik ramalan. Para peramal memanfaatkan momen ini untuk memperoleh uang atau keuntungan dengan bayaran tidak sedikit. Kedua, bahaya Syncretisme yakni ajaran agama campuran dengan adagiumnya: Tuhan adalah satu nama yang dipergunakan oleh semua agama. Misalnya, dalam rumah pribadi kaisar Aleksander Severus ada patung Abraham, Orpheus, Apolo dan Kristus. Ketiga, bahaya Gnostisisme yakni aliran yang memandang materi dan Allah sebagai sama-sama dari kekal. Jika dibandingkan dengan Allah yang sempurna, materi yang kekal tersebut cacat dan tidak sempurna. Bagi mereka Allah yang sempurna tidak bisa mencipta karena tidak dapat menyentuh materi yang kotor dan bercacat itu. Karena itu Allah mengirim emanasi dan emanasi itu mengeluarkan emanasi yang lainnya yang baru dan berada semakin jauh dari Allah, semakin tidak dikenal oleh Allah. Emansi yang terakhir inilah yang menciptakan dunia. Bahaya ajaran Gnostis adalah orang dapat saja berpikir bahwa karena materi itu buruk atau jahat, maka tubuh juga adalah jahat. Karena tubuh jahat, maka saya dapat berbuat apa saja dengan tubuh saya. Saya akan memuaskan semua keinginan dan nafsuku.

2.                  Tujuan Penulisan Surat Kolose Bagi Komunitas Kristennya

Apabila melihat latar belakang di atas kita menjumpai bahaya-bahaya yang menimpa umat di Kolose zaman Paulus. Mereka sedang berada dalam situasi degradasi moral akibat kehadiran ajaran-ajaran sesat. Ajaran-ajaran sesat tersebut mendominasi kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam bidang religius, jemaat mengalami kemerosotan iman akan Yesus Kristus. Melihat situasi yang demikian Paulus menasihati mereka melalui tulisan-tulisannya ini yakni pertama, terhadap situasi yang menyenangkan sebagaimana diberitakan oleh Epafras, Paulus senantiasa mengucap syukur dan berdoa terutama tentang iman mereka dalam Kristus Yesus serta kasih mereka terhadap semua orang kudus (Kol. 1: 3-4). Kedua, terhadap bahaya-bahaya atau ajaran sesat (Astrologi, syncretisme dan gnostisisme) yang mengancam kehidupan jemaat Kristen di Kolose, Paulus memberikan peneguhan iman kepada mereka agar selalu berhati-hati dan  tidak mengabdikan diri mereka kepada berbagai ajaran sesat tersebut. Dalam Kol. 2: 8, dia menegaskan kepada mereka bahwa berhati-hatilah terhadap filsafat kosong dan palsu menurut roh-roh dunia. Di sini Paulus bermaksud agar umat tidak percaya akan ajaran Astrologi yang berkembang luas zamannya. Bagi Paulus satu-satunya senjata utama yang dipegang  teguh oleh umat Kristen adalah percaya kepada kekuatan Kristus, bukan kepada hal-hal duniawi yang mudah binasa (Kol. 2: 20). Terhadap ajaran Syncretisme dan Gnostisisme, Paulus menegaskan hal sama yakni meneguhkan iman umat agar tetap setia dan percaya dengan teguh kepada Kristus.  

3. Tinjauan Eksegetis atas Kol. 3: 5

            Bunyi surat Kol. 3: 5: “Karena itu matikanlah dalam diri-mu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,”

            Penulis sangat tertarik mengeksegese atau menafsir teks Kol. 3: 5 ini karena sangat erat kaitannya dengan praksis hidup manusia pada umumnya yakni makhluk yang mudah jatuh dalam godaan duniawi seperti mamon, zinah dan sebagainya. Tentu di sini tanpa mengabaikan ayat yang lainnya dari surat Kolose ini.

            Dalam Kol. 3:5 di atas, Paulus memberikan nasihat atau kecaman keras kepada umat Kristen di Kolose agar menghindari segala bentuk perbuatan duniawi yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam cara hidup yang tidak Kristiani (dosa). Dalam ayat 5 di atas, Paulus menggunakan frase “matikanlah dalam dirimu sesuatu yang duniawi”. Pertanyaannya adalah adakah Paulus di sini mengikuti ajaran sesat (ajaran Gnostik: melihat materi itu jahat, maka tubuh itu juga jahat) yang menghina atau menindas tubuh? Bahwa tubuh itu harus dihancurkan atau dimusnahkan karena kefanaan atau ketidaksempurnaannya itu?

            Dalam konteks Kol. 3:5 di atas, Paulus tentu tidak mengikuti ajaran sesat karena ia sendiri sungguh mengecam berbagai ajaran sesat itu (Kol. 2:20). Paulus di sini tidak bermaksud membunuh eksistensi tubuh fisik manusia, tapi apa yang lahir atau hadir dari segala kecenderungan yang duniawi itulah yang harus dimusnahkan. Kata “matikanlah” merujuk pada sikap Paulus yang menentang kejanggalan-kejanggalan kehidupan duniawi-jasmani yang penuh dengan noda dosa. Dengan kata lain, Paulus tidak memberitakan pembunuhan tubuh fisik manusia, tetapi hanya menyerang pekerjaan dunia yang sarat akan kecenderungan jahat atau dosa. Singkatnya bahwa Paulus tidak membenci pendosanya, tapi ia membenci dosa atau kuasa kegelapannya. Bagi Paulus martabat manusia terlalu luhur untuk dihancurkan karena pendosa itu sendiri adalah citra atau gambaran wajah Allah yang Maharahim.

            Dalam ayat 5 di atas juga, Paulus menyebut lima kecenderungan atau pekerjaan duniawi yang harus dimatikan atau dimusnahkan dalam kehidupan umat Kristen di Kolose. Pertama, pencabulan. Pencabulan telah membuat manusia lain menjadi objek atau sasaran kebengisan hawa nafsu, yang satu memakai yang lain. Rupanya praktik cabul ini sudah lumrah dipraktikan dalam agama-agama Yunani zaman Paulus waktu menulis surat ini. Dalam agama Yunani praktik cabul sudah mendapat legitimasi dan kesetiaan dalam nikah tidak diperhatikan lagi. (bdk. M. H. Bolkestein, 1996: 107). Kedua, najis. Banyak juga dipraktikan dalam kehidupan masyarakat Yunani ketika surat ini ditulis. Perbuatan najis dapat berupa homoseksualitas (Rom. 1:24). Ketiga, hawa nafsu. Nafsu selalu punya intensi untuk mengantar orang ke dalam hidup menurut keinginannya. Hawa nafsu di sini tidak hanya sebatas pada kelamin, tapi juga terdapat dalam tindakan yang berdasarkan keinginan daging. Keempat, nafsu jahat. Nafsu jenis ini bukan hanya sekedar pelampiasan keinginan tertentu tetapi keinginan tersebut disertai dengan kejahatan yang berdaya merusak. Kelima, ketamakan atau keserakahan. Tamak merupakan salah satu bentuk penyembahan berhala (Ef. 4:19, 5: 3, 5). Orang tamak selalu melihat sesuatu dari perspektif untungnya dari sebuah tindakan, meskipun perbuatan itu merugikan orang lain. Orang tamak adalah hamba uang, hamba kekayaan. Uang adalah dewanya. (bdk. M. H. Bolkestein, 1996: 108). Di sini hanya mau mengatakan bahwa ketika orang mendewakan uang atau mamon, maka yang terjadi adalah praktik ketidakadilan sosial, lenyapnya kepedulian sosial.

            Dari beberapa tinjauan eksegetis atas Kol. 3:5 di atas, penulis akhirnya menemukan aneka nilai kebajikan yang dapat dijadikan sarana pembantu dalam praksis hidup setiap hari. Nilai-nilai kebajikan itu adalah sikap untuk meninggalkan atau menjauhkan diri dari pelbagai kecenderungan duniawi seperti pencabulan, nafsu jahat, hawa nafsu, tamak dan kenajisan. Kelima kecenderungan di atas tentunya hanya sebagian dari aneka banyak kecenderungan duniawi lainnya. Di sini hanya mau mengatakan bahwa sebagai pengikut Kristus kita harus berani menyatakan perang dengan kecenderungan badaniah yang merusak relasi kita dengan Allah dan sesama manusia. Pemfokusan diri akan hal-hal yang berbau duniawi atau jasmaniah akan mengantar kita para spiritualitas hidup antihuman karena sikap bela rasa, tindakan kasih dan kepedulian sosial sudah dijejali oleh ego diri. Maka, kita diajak untuk memperkuat spiritualitas berbasis humanitas yang penuh dengan solidaritas kepada sesama manusia dengan kasih Kristus sendiri.

SUMBER:

Barclay, William. Penulis dan Warta Perjanjian Baru Penterj. Eduard Jebarus

            Ende: Nusa Indah, 1981.

Bolkestein, M. H. Tafsiran Kolose. Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1996.

Senin, 06 Mei 2024

KASIH TUHAN MELEBIHI KASIH KITA


Bacaan Injil: Yoh. 15:9--17.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.
12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu      minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Demikianlah Sabda Tuhan:

Renungan Singkat:

Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Pada hari ini, Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi, seperti Dia telah mengasihi kita. Poin penting yang mau ditekankan di sini adalah sebelum kita mengasihi, Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Kita bisa saling mengasihi hanya karena Tuhan, bukan sebaliknya, Tuhan mengasihi, karena kita mengasihi. Kasih Tuhan tidak ditentukan kondisi dan/atau situasi hidup kita. 

Bagi kita sebagai pengikut Kristus, perintah untuk saling mengasihi menuntut sebuah kesetiaan. Memang belajar menjadi setia dan tetap setia tidaklah mudah. Namun, kita hanya perlu kesadaran diri sebagai penopang kesetiaan kita. Sebuah kesadaran yang lahir dari hati dan pikiran, yang berimbas pada cara bertutur dan bertindak kita. 

Kita hanya akan setia dan tetap setia, kalau kita menyadari tujuan panggilan hidup kita masing-masing. Sadar tujuan, penting untuk menghindari jalan yang salah. Kita juga hendaknya menyadari bahwa kesetiaan kita untuk bertahan sejauh ini, karena rahmat dan nikmat yang diberikan Tuhan. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak setia kepada Tuhan.

Akhirnya, setiap hari, Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kasih. Apakah kita mendengarkan panggilan Tuhan atau hanya sebatas mendengar saja?

Mari kita refleksikan dalam diri kita masing-masing. Tuhan memberkati hidup kita. AMIN.

HERODES DAN PERIHAL BERSUMPAH

  BACAAN INJIL: MARKUS 6: 17--29 Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Saya sangat tertarik, untuk merefleksikan ayat-ayat dari I...