Bunyi Hukum Pertama: “Jangan menyembah berhala. Berbaktilah kepada-Ku
saja dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu”
Berdasarkan isi hukum pertama dalam kesepuluh firman
Allah di atas, kita bisa mengetahui, memahami sekaligus mendalami secara
komprehensif posisi atau identitas kita sebagai orang Kristen. Isi hukum pertama di atas mau mengafirmasi eksistensi
kita sebagai umat pilihan Allah yang senantiasa dituntut secara terus menerus
untuk percaya atau mengimani Allah yang adalah sumber kasih. Hemat penulis, ada
tiga poin penting yang dapat kita petik dan dalami maknanya dari hukum pertama
dalam kesepuluh firman Allah di atas terutama dalam hubungannya dengan
eksistensi atau identitas kita sebagai umat Kristen, umat pilihan Allah yang
penuh belas kasih.
Pertama, “Jangan menyembah berhala.” Perintah ini mengandung suatu larangan keras dari Allah
kepada setiap umat-Nya agar tidak menyembah berhala atau kepada hal-hal duniawi
yang pada galibnya bersifat sementara dan penuh dengan noda dosa. Orang Kristen
dituntut untuk percaya hanya kepada satu Allah dalam tiga pribadi yakni Bapa,
Putra, dan Roh Kudus (Trinitas) saja dan tidak diperbolehkan menyembah
allah-allah lain, apalagi kepada patung-patung. Hal ini tentunya bermaksud agar
api kesadaran umat Kristen senantiasa terpancar hanya kepada Allah yang adalah
pencipta-Nya yang setiawan, yang menghembuskan nafas kehidupan dalam diri
umat-Nya atas dasar kasih. Maka dengan demikian sebagai makhluk ciptaan,
manusia (orang Kristen) sejatinya harus menghormati Allah sebagai Penciptanya yang
Mahamulia dan Mahakudus dengan tidak menyembah sesuatu di luar diri Allah
sendiri. Allah yang satu itulah yang harus dan patut disembah oleh setiap orang
Kristen dalam derap langkah hidup setiap hari.
Kedua, “Berbaktilah kepada-Ku saja”. Dalam konteks ini, kita sebagai orang Kristen dituntut
untuk memilih identitas sebagai hamba Allah yang senantiasa berbakti hanya melayani
kehendak Allah sendiri. Sebagai ciptaan Allah yang paling istimewa kita
dipanggil-Nya secara istimewa nan khusus untuk turut ambil bagian dalam karya
pelayaan Allah sendiri. Karya pelayanan kita sejatinya harus berlandaskan kehendak
Allah sendiri bukan kepada kehendak duniawi atau alla-allah lain yang adalah
semu dan memiliki intensi tertentu yang pada hakekatnya menggoalkan kepentingan
manusiawi semata.
Ketiga, “Cintailah Aku lebih dari segala sesuatu”. Di sini, identitas
kita sebagai orang Kristen terpenuhi apabila kita memiliki semangat atau
spiritualitas hidup kasih yang selalu mencintai Tuhan sebagaimana ditegaskan
sebagai hukum yang pertama dan utama. Posisi kita dalam hubungan dengan Allah
yang penuh kasih ini adalah yang dicintai terlebih dahulu oleh Allah, maka
dengan demikian kita pun harus mencintai Allah. Allah mencintai kita tanpa memandang
siapa kita atau tanpa memandang bulu. Ia mencintai kita secara total walaupun
Allah sendiri mengetahui bahwa manusia pasti tidak akan setia kepada-Nya. Manusia
adalah makhluk sementara yang begitu lemah akibat kemudahannya untuk jatuh ke
dalam dosa atau pencobaan. Namun, Tuhan tidak memandang kekurangan manusia itu
sebab Ia penuh dengan kasih setia. Maka dengan itu, kita selalu dituntut untuk
mencintai hanya kepada Allah saja. Seperti halnya Allah mencintai kita secara
total, maka totalitas spiritualitas kasih jualah sikap kita terhadap Allah.
Adapun spiritualitas kasih kepada Allah dapat kita tunjukkan dalam keseharian
hidup kita dengan tidak menyembah berhala dan tidak berbakti kepada hal-hal
duniawi seperti mamon atau harta
duniawi sebab kesemuanya itu adalah semu dan bersifat sementara belaka.
Lalu, bagaimana hubungan Kerajaan Allah dan pertobatan
menurut perintah yang pertama?
Pada hakikatnya, eksistensi Allah adalah kasih dan cinta.
Sebagai entitas kasih dan cinta, maka segala sesuatu yang diciptakan atau yang
bernaung di bawah payung ke-Mahakuasa-an Allah adalah perwujudan kasih dan
cinta juga. Manusia dan semua komponen alam semesta ini adalah perwujudan kasih
dan cinta Allah. Semuanya diciptakan oleh Allah melalui sabda-Nya yang Kudus dan
Mahakuasa atas dasar asas kebaikan yang dalamnya berlimpah kasih setia.
Kerajaan Allah adalah suasana kehidupan ilahi yang fondasi utamanya adalah
kasih dan rahmat pengampunan Allah. Lalu bagaimana hubungan Kerajaan Allah dan
pertobatan dalam konteks perintah pertama sebagaimana termaktub di dalam
kesepuluh firman Allah di atas?
Pertobatan pada hakikatnya selalu berhubungan dengan realitas keberdosaan manusia. Dosa merupakan suatu aktus ketidaksetiaan manusia terhadap kehendak Allah yang adalah kasih. Dosa terjadi tatkala manusia memilih jalan lain yang berseberangan dengan jalan Allah. Manusia tidak puas akan keadaan yang diterimanya dari Allah dan karena itu memilih beroposisi dengan kehendak Allah sendiri. Namun, sebagai makhluk yang sadar akan eksistensinya yang tercipta dari Allah dan meskipun manusia bertindak tidak setia dan beroposisi dengan kehendak Allah, manusia pada akhirnya mulai menyadari kesalahannya. Bahwa jalan yang benar hanya tertuju kepada Allah sendiri bukan kepada hal-hal lain sebagaimana diimpikannya itu. Ketika manusia mulai menyadari kesalahan akan keberdosaannya itu, ia mulai mencari pencerahan dan kasih dan di sini yang dicari manusia adalah Tuhan sendiri sebab Dialah sumber kasih itu sendiri. Maka pada titik ini, benih pertobatan mulai mengakar dalam diri manusia sendiri. Pertobatan di sini dapat diartikan sebagai suatu situasi berbaliknya manusia kepada Kerajaan Allah yang penuh kasih dan pengampunan. Dalam konteks Kitab Suci Perjanjian lama, tobat selalu berhubungan dengan berbaliknya orang Israel dari penyembahan berhala menjadi berbakti dan mencintai Allah lebih dari segalanya. Adapun melalui hukumnya yang pertama di atas, Allah sebenarnya menghendaki kita umat-Nya untuk selalu bertobat dan tidak menyimpang dari jalannya. Orang Kristen dituntut untuk kembali kepada Kerajaan-Nya yang berlimpah kasih setia dan kebenaran ilahi. Suatu Kerajaan yang penuh pengampunan dan tanpa noda dosa, sebab di dalamnya hidup orang-orang yang senantiasa sadar akan eksistensi atau identitasnya sebagai ciptaan Allah.














