This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 30 Maret 2024

KERAJAAN ALLAH DAN PERTOBATAN DALAM SEPULUH PERINTAH ALLAH

 

Bunyi Hukum Pertama: “Jangan menyembah berhala. Berbaktilah kepada-Ku saja dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu”

Berdasarkan isi hukum pertama dalam kesepuluh firman Allah di atas, kita bisa mengetahui, memahami sekaligus mendalami secara komprehensif posisi atau identitas kita sebagai orang Kristen. Isi hukum  pertama di atas mau mengafirmasi eksistensi kita sebagai umat pilihan Allah yang senantiasa dituntut secara terus menerus untuk percaya atau mengimani Allah yang adalah sumber kasih. Hemat penulis, ada tiga poin penting yang dapat kita petik dan dalami maknanya dari hukum pertama dalam kesepuluh firman Allah di atas terutama dalam hubungannya dengan eksistensi atau identitas kita sebagai umat Kristen, umat pilihan Allah yang penuh belas kasih.

Pertama, “Jangan menyembah berhala.” Perintah ini mengandung suatu larangan keras dari Allah kepada setiap umat-Nya agar tidak menyembah berhala atau kepada hal-hal duniawi yang pada galibnya bersifat sementara dan penuh dengan noda dosa. Orang Kristen dituntut untuk percaya hanya kepada satu Allah dalam tiga pribadi yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Trinitas) saja dan tidak diperbolehkan menyembah allah-allah lain, apalagi kepada patung-patung. Hal ini tentunya bermaksud agar api kesadaran umat Kristen senantiasa terpancar hanya kepada Allah yang adalah pencipta-Nya yang setiawan, yang menghembuskan nafas kehidupan dalam diri umat-Nya atas dasar kasih. Maka dengan demikian sebagai makhluk ciptaan, manusia (orang Kristen) sejatinya harus menghormati Allah sebagai Penciptanya yang Mahamulia dan Mahakudus dengan tidak menyembah sesuatu di luar diri Allah sendiri. Allah yang satu itulah yang harus dan patut disembah oleh setiap orang Kristen dalam derap langkah hidup setiap hari.

Kedua, “Berbaktilah kepada-Ku saja”. Dalam konteks ini, kita sebagai orang Kristen dituntut untuk memilih identitas sebagai hamba Allah yang senantiasa berbakti hanya melayani kehendak Allah sendiri. Sebagai ciptaan Allah yang paling istimewa kita dipanggil-Nya secara istimewa nan khusus untuk turut ambil bagian dalam karya pelayaan Allah sendiri. Karya pelayanan kita sejatinya harus berlandaskan kehendak Allah sendiri bukan kepada kehendak duniawi atau alla-allah lain yang adalah semu dan memiliki intensi tertentu yang pada hakekatnya menggoalkan kepentingan manusiawi semata.

Ketiga, “Cintailah Aku lebih dari segala sesuatu”. Di sini, identitas kita sebagai orang Kristen terpenuhi apabila kita memiliki semangat atau spiritualitas hidup kasih yang selalu mencintai Tuhan sebagaimana ditegaskan sebagai hukum yang pertama dan utama. Posisi kita dalam hubungan dengan Allah yang penuh kasih ini adalah yang dicintai terlebih dahulu oleh Allah, maka dengan demikian kita pun harus mencintai Allah. Allah mencintai kita tanpa memandang siapa kita atau tanpa memandang bulu. Ia mencintai kita secara total walaupun Allah sendiri mengetahui bahwa manusia pasti tidak akan setia kepada-Nya. Manusia adalah makhluk sementara yang begitu lemah akibat kemudahannya untuk jatuh ke dalam dosa atau pencobaan. Namun, Tuhan tidak memandang kekurangan manusia itu sebab Ia penuh dengan kasih setia. Maka dengan itu, kita selalu dituntut untuk mencintai hanya kepada Allah saja. Seperti halnya Allah mencintai kita secara total, maka totalitas spiritualitas kasih jualah sikap kita terhadap Allah. Adapun spiritualitas kasih kepada Allah dapat kita tunjukkan dalam keseharian hidup kita dengan tidak menyembah berhala dan tidak berbakti kepada hal-hal duniawi seperti mamon atau harta duniawi sebab kesemuanya itu adalah semu dan bersifat sementara belaka.

Lalu, bagaimana hubungan Kerajaan Allah dan pertobatan menurut perintah yang pertama?

Pada hakikatnya, eksistensi Allah adalah kasih dan cinta. Sebagai entitas kasih dan cinta, maka segala sesuatu yang diciptakan atau yang bernaung di bawah payung ke-Mahakuasa-an Allah adalah perwujudan kasih dan cinta juga. Manusia dan semua komponen alam semesta ini adalah perwujudan kasih dan cinta Allah. Semuanya diciptakan oleh Allah melalui sabda-Nya yang Kudus dan Mahakuasa atas dasar asas kebaikan yang dalamnya berlimpah kasih setia. Kerajaan Allah adalah suasana kehidupan ilahi yang fondasi utamanya adalah kasih dan rahmat pengampunan Allah. Lalu bagaimana hubungan Kerajaan Allah dan pertobatan dalam konteks perintah pertama sebagaimana termaktub di dalam kesepuluh firman Allah di atas?

Pertobatan pada hakikatnya selalu berhubungan dengan realitas keberdosaan manusia. Dosa merupakan suatu aktus ketidaksetiaan manusia terhadap kehendak Allah yang adalah kasih. Dosa terjadi tatkala manusia memilih jalan lain yang berseberangan dengan jalan Allah. Manusia tidak puas akan keadaan yang diterimanya dari Allah dan karena itu memilih beroposisi dengan kehendak Allah sendiri. Namun, sebagai makhluk yang sadar akan eksistensinya yang tercipta dari Allah dan meskipun manusia bertindak tidak setia dan beroposisi dengan kehendak Allah, manusia pada akhirnya mulai menyadari kesalahannya. Bahwa jalan yang benar hanya tertuju kepada Allah sendiri bukan kepada hal-hal lain sebagaimana diimpikannya itu. Ketika manusia mulai menyadari kesalahan akan keberdosaannya itu, ia mulai mencari pencerahan dan kasih dan di sini yang dicari manusia adalah Tuhan sendiri sebab Dialah sumber kasih itu sendiri. Maka pada titik ini, benih pertobatan mulai mengakar dalam diri manusia sendiri. Pertobatan di sini dapat diartikan sebagai suatu situasi berbaliknya manusia kepada Kerajaan Allah yang penuh kasih dan pengampunan. Dalam konteks Kitab Suci Perjanjian lama, tobat selalu berhubungan dengan berbaliknya orang Israel dari penyembahan berhala menjadi berbakti dan mencintai Allah lebih dari segalanya. Adapun melalui hukumnya yang pertama di atas, Allah sebenarnya menghendaki kita umat-Nya untuk selalu bertobat dan tidak menyimpang dari jalannya. Orang Kristen dituntut untuk kembali kepada Kerajaan-Nya yang berlimpah kasih setia dan kebenaran ilahi. Suatu Kerajaan yang penuh pengampunan dan tanpa noda dosa, sebab di dalamnya hidup orang-orang yang senantiasa sadar akan eksistensi atau identitasnya sebagai ciptaan Allah.

Selasa, 19 Maret 2024

MARI BELAJAR DARI FILM FIREPROOF

 

Fireproof adalah sebuah film inspiratif yang menceritakan persoalan-persoalan seputar bahtera kehidupan keluarga Kristiani modern. Film yang berasal dari Amerika Serikat ini dirilis pada tahun 2008 oleh Samuel Goldwyn Films dan Affirm Films, disutradarai oleh Alex Kendrick, yang merupakan penulis dan produser bersama dengan saudaranya, Stephen Kendrick. Film ini dibintangi oleh Kirk Cameron. Erin Bethea, Ken Bevel, Perry Revell, Harris Malcom, Phyllis Malcom, dan lain-lain.

Meskipun review film ini secara umum kurang bagus dari kalangan kritikus film, film ini ternyata sangat sukses dan menjadi surprise hit di Box Office, meraih peringkat 4, dan menjadi film independen, dengan pendapatan kotor tertinggi berjumlah lebih dari $33 juta pada tahun 2008. Film ini memperoleh penghargaan dari organisasi-organisasi Kristen Evangelikal, serta meraih "Best Feature Film Award” pada San Antonio Independent Christian Film Festival 2009 (Wikipedia).

Ada dua tokoh sentral dalam film ini, yakni sepasang suami istri Kristiani, Caleb Holt dan Catherine Holt. Caleb Holt adalah kapten Albany Fire Department's Station One, seorang pemadam kebakaran di daerah Albania, Georgia. Sementara itu, Catherine Holt (istrinya) adalah direktur public relations pada Phoebe Putney Memorial Hospital.

Dalam film ini, Caleb dan Catherine mengalami banyak persoalan dalam kehidupan keluarga. Persoalan-persoalan tersebut hampir membawa keduanya pada perceraian sebagai pasangan keluarga Kristiani. Persoalan-persoalan yang dialami oleh Caleb dan Catherine disebabkan oleh miskomunikasi dan pornografi yang berujung pada hadirnya orang ketiga. Miskomunikasi terjadi karena keduanya membangun sebuah kecurigaan, tidak saling percaya, tidak setia, dan tidak terbuka antara satu sama lain. Miskomunikasi berujung pada sikap saling menyalahkan dan menceritakan keburukan pasangannya kepada rekan kerja mereka.

Keegoisan kedua pasangan ini rupanya mendominasi perjalanan rumah tangga mereka. Keegoisan telah memupuk sikap tidak mau mendengarkan satu sama lain, hingga akhirnya berdampak pada ketidakfokusan untuk membangun bahtera kehidupan keluarga. Fakta ini tentu berseberangan dengan komitmen perkawinan Gereja Katolik, yakni kebahagiaan pasangan Kristiani akan tercipta dengan selalu berjalan pada satu tujuan yang sama.

Kehadiran orang ketiga, yaitu dr. Gavin Keller juga semakin memperkeruh hubungan Caleb dan Catherine. Apalagi ditambah dengan kondisi ibu Catherine yang sedang sakit dan kecenderungan Caleb menonton film porno, membuat situasi semakin runyam. Kedekatan dan intensitas perjumpaan dr. Gavin dan Catherine menimbulkan benih cinta antara keduanya. Catherine jatuh cinta pada Keller yang dalam kenyataannya sudah berkeluarga, namun tidak mau menceritakannya pada Catherine. Catherine pun demikian, tidak mau menceritakan bahwa dirinya sudah hidup berkeluarga dengan Caleb.

Menarik bahwa di tengah pergolakan keluarga ini, muncul sebuah kesadaran dari Caleb untuk kembali menata kehidupan keluarganya yang sedang berada pada ujung tanduk. Caleb menceritakan seluruh persoalan keluarganya pada John Holt, ayahnya. Caleb menceritakan ihwal rencana perceraiannya dengan istrinya. Namun, ayahnya meneguhkan Caleb agar mempertimbangkan keputusan itu. Ayahnya memberikan sebuah buku yang berisi 40 hal yang berkaitan dengan persoalan seputar keluarga. Caleb menerapkan apa yang ditegaskan dalam buku itu, walaupun banyak kegagalannya yang membuat Caleb putus asa. Namun, ayahnya tetap memberikan kekuatan dan selalu mengingatkan Caleb, agar selalu berdoa kepada Tuhan. Sikap penyerahan kepada Tuhan akhirnya mengubah sikap Caleb dan memilih untuk lebih banyak bertingkah baik ketimbang banyak berbicara. Dia mengubah konsepnya tentang kehidupan rumah tangga. Alhasil, upaya Caleb berhasil berkat motivasi dari ayahnya sendiri.

Pesan untuk Kita

Ternyata komunikasi itu sangat penting dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis. Kegagalan dalam komunikasi antara Caleb dan Catherine menjadi akar dari banyak masalah yang mereka hadapi. Mereka tidak hanya gagal dalam mendengarkan satu sama lain, tetapi juga tidak mampu untuk terbuka dan jujur tentang perasaan dan kebutuhan mereka. Ini mengarah pada sikap saling curiga, ketidakpercayaan, egois, dan kesalahpahaman yang merusak hubungan mereka.

Film ini juga menggarisbawahi pentingnya komitmen dalam perkawinan. Meskipun menghadapi banyak godaan dan kesulitan, terutama dengan munculnya orang ketiga seperti dr. Gavin Keller, Caleb dan Catherine akhirnya menyadari pentingnya mempertahankan komitmen antara satu sama lain. Mereka belajar bahwa cinta sejati bukanlah hanya tentang perasaan, melainkan juga tentang keputusan untuk tetap bersama dan bekerja keras untuk memperbaiki hubungan mereka.

Terakhir, film ini mengajarkan pentingnya keyakinan dan penyerahan kepada Tuhan dalam menghadapi cobaan dan kesulitan dalam kehidupan rumah tangga atau kehidupan bersama. Melalui dukungan dari ayah Caleb dan melalui doa, Caleb menemukan kekuatan dan motivasi untuk bertahan dan memperbaiki hubungannya dengan Catherine.

HERODES DAN PERIHAL BERSUMPAH

  BACAAN INJIL: MARKUS 6: 17--29 Saudara dan Saudari yang terkasih dalam Kristus. Saya sangat tertarik, untuk merefleksikan ayat-ayat dari I...